Halaman

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2013

Kerinduan Cinta Sang Muslimah

Tidak ada yang salah manakala seorang muslimah merindukan cinta dan kasih sayang dari seseorang yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya. Setiap insan termasuk seorang muslimah pun berhak dan lumrah untuk merasakan kerinduan semacam itu. Meskipun tak terungkap secara lisan, penantian dan impian untuk menggapai sebuah mahligai pernikahan adalah puncak gelisah dan kerinduan yang merupakan salah satu bentuk ujian seorang gadis muslim.

Ibarat sekuntum bunga yang sedang mekar atau bahkan telah mekar dan matang dalam waktu yang sudah cukup lama, adanya kecenderungan untuk disentuh oleh si kumbang jantan yang menawan dan memberikan sari madunya adalah adalah salah satu fitrah yang lumrah dirasakan oleh dirasakan oleh seorang gadis. Sayangnya, saat ini banyak sekali dan semakin banyak kumbang-kumbang jantan yang hanya mengobral rayuan gombal, kata-kata picisan, hanya menggoda, bahkan hanya ingin menghisap sari madu dari sang gadis saja, setelah dapat ia terbang dan menghilang entah kemana. Sedikit sekali kumbang-kumbang jantan yang bersedia berjuang untuk membawa sang gadis dengan jalan yang diridhai oleh Allah swt, yaitu sebuah jalan pernikahan.

Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci, maka sudah sepatutnyalah setiap langkah untuk mencapainya pun harus dilakukan dengan cara yang suci. Manakala seorang gadis telah merasakan kerinduan akan seorang pendamping hidup, artinya secara sadar maupun tidak ia telah melangkahkan kakinya pada salah satu jalan yang akan menghantarkan pikiran dan hatinya pada sebuah mahligai pernikahan. Untuk itu, hendaknya ia senantiasa berjaga dengan kuat dan berhati-hati dalam setiap langkah. Jangan sampai ada noda yang tercecer dan mengotori jalan yang suci ini hingga tiba saat yang dinanti-nanti, yaitu ketika Allah meridhai dan mewujudkan sebuah pernikahan indah dan suci yang selama ini didambakan.

Memang, penantian tidaklah membutuhkan tenaga yang ekstra besar. Namun, sebagian besar manusia pun mengakui bahwa penantian adalah salah satu pekerjaan yang sangat melelahkan. Terlebih lagi penantian untuk sebuah pernikahan, ini merupakan sebuah penantian besar yang sangat melelahkan. Karena, dalam penantian inilah syaithan-syaithan dalam bentuk nafsu dan syahwat senantiasa menghampiri. Manakala seorang gadis tengah berada dalam lelahnya sebuah penantian, maka pada saat itulah syaithan-syaithan sedang menatapnya sebagai sebuah sarapan pagi yang lezat dan siap untuk disantap. Oleh karena itu, seorang muslimah hendaknya benar-benar mengerti hal-hal yang sebaiknya ia lakukan dalam masa penantiannya. Dengan demikian, penantiannya untuk sebuah pernikahan yang indah dan suci tidak akan sia-sia, dan Allah akan memberikannya seorang pendamping Rabbani dalam pernikahan yang telah menjadi impian.

Pernikahan adalah awal dari sebuah kehidupan dan perjalanan hidup yang baru. Idealnya, perjalanan panjang hendaknya disertai dengan bekal yang benar dan cukup. Demikian pula dengan pernikahan, membutuhkan bekal yang tidak sedikit dan sembarangan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang sepatutnya dilakukan dan diistiqomahkan oleh seorang muslimah dalam penantiannya untuk menuju sebuah pernikahan yang diridhai oleh Allah swt. Langkah-langkah inilah yang insya Allah akan menjadi bekal untuk berlayar di atas lautan dan gelombang kehidupan dengan ombak dan badai yang selalu mengintai. Langkah-langkah inilah yang akan menjadi kompas dan bahan bakar untuk perahu pernikahan.

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah
Menantikan seorang lelaki shalih yang akan meminang dan menyandingnya dalam sakralnya pernikahan memang akan memancing datangnya berbagai bentuk godaan. Untuk itulah, seorang muslimah hendaknya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya (baik ibadah fardhu maupun sunnah) untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Insya Allah, dengan peningkatan ibadah ini Allah akan memberikan kekuatan dan pertolongannya untuk menghadapi godaan-godaan yang mencoba untuk menggoyahkan dan memikatnya.

2. Istiqamah dalam doa dan tawakal
Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi maupun yang tidak terjadi adalah hanya atas kehendak Allah swt semata. Rizki, maut, dan juga jodoh, itu semua berada dalam genggaman Allah swt, tidak akan ada yang mampu merubahnya kecuali Dia. Dan sebagai manusia, yang diwajibkan hanyalah berusaha dan berdoa dengan sebaik-baiknya. Kemudian bertakwakallah kepada-Nya, serahkan dan percayakan segala keputusan final hanya kepada-Nya. Janganlah pesimis dan berburuk sangka kepada Allah, karena Allah akan mengikuti persangkaan hamba-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al Baqarah:153).

Istiqamahlah dalam berdoa agar diberikan pendamping hidup yang sholeh, dan dikaruniakan sebuah pernikahan yang barakah sehingga membawa kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Yakinlah bahwa Allah lebih mengerti apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan yakinlah, bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya.

3. Mempersiapkan diri
Meskipun dinanti-nanti, namun pernikahan bukanlah hal sepele yang dapat dicapai dan dijalani dengan sembarangan atau asal mau saja. Ketika seorang wanita telah memasuki pintu pernikahan, maka secara otomatis kewajibannya pun telah bertambah (demikian pula halnya dengan laki-laki). Maka dari itu, hendaknya seorang muslimah senantiasa mempersiapkan dirinya sebelum seorang pangerang yang diutus oleh Allah swt datang untuk menjemput dan membawanya menuju istana pernikahan yang sakral.

Teruslah membekali diri dengan ilmu, khususnya ilmu agama, dan terutama ilmu agama yang berkaitan dengan masalah kerumah tanggaan. Selain itu, seorang muslimah juga harus membekali dirinya dengan keterampilan berumah tangga. Dan bekal yang terakhir adalah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang isteri shalihah yang taat dan senantiasa menyenangkan hati suami.

Saudariku, pernikahan adalah dambaan bagi setiap insan, tidak terkecuali seorang muslimah. Dan menunggu pangeran shalih yang akan menjemputnya menuju mahligai pernikahan yang sakral, bukanlah perjuangan yang ringan. Gelisah, gundah, tanda tanya, harap, cemas, semua membaur menjadi satu. Namun, sekali lagi pernikahan bukanlah ikatan yang dapat dijalin dengan “mau” saja. Untuk menuju pernikahan yang barakah, dibutuhkan bekal-bekal yang benar dan cukup. Jangan sampai kita kehabisan bahan bakar ataupun perbekalan ketika sedang menyelami lautan pernikahan. Terlebih lagi menyelami lautan pernikahan tanpa membawa bekal, anda akan kelaparan dan kehausan. Jangan sampai anda melupakan peta dan kompas manakala hendak menjelajahi belantara pernikahan.

Saudariku, rindukanlah sebuah pernikahan sakinah, mawaddah, warrahmah. Rindukanlah seorang pendamping hidup yang akan membawa ikatan pernikahan mulia di dunia dan akhirat. Dan tidaklah sebuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrahmah, melainkan dengan kita memperjuangkannya di jalan yang diridhai oleh Allah, melainkan kita masuki pintu pernikahan tersebut dengan menyebut asma Allah. Dan tidaklah sebuah pernikahan akan sakinah, mawaddah, warrahmah, kecuali kita menjalankannya dengan bekal yang cukup, dengan bekal yang benar. Allah, adalah pangkal tolak dan arah melangkah kita dalam menanti dan mengemudikan sebuah pernikahan.

Pernikahan yang barakah adalah pernikahan yang dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa. Hanya pernikahan yang barokahlah yang akan memberikan kebagiaan dunia dan akhirat. Pernikahan dibawah naungan islam, pernikahan dibawah naungan Allah adalah pernikahan yang menjadi dambaan orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tiga langkah di atas merupakan secuil ikhtiar yang jika direalisasikan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan keistiqamahan, insya Allah akan menjaga diri kita dari godaan-godaan yang menerpa manakala berada disebuah jalan menuju pernikahan. Dan insya Allah akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam mengaruhi bahtera pernikahan kelak.

Semoga bermanfaat. Wassalam.

*Sumber dari berbagai referensi.

Pikiran Manusia

Pikiran membuat seseorang dapat bertahan sekuat apapun tekanan yang dihadapi. Tetapi jangan salah, pikiran bagaikan pedang bermata dua yang dapat membuat seseorang menjadi licik, jahat, gila. Seseorang yang dapat mengendalikan pikirannya dan berjalan bersamanya akan dapat melalui ombak kehidupan ini dan melawan tantangan seperti apapun. Bahkan yang tersisa dari manusia ketika semua anggota tubuhnya lumpuh dan cacat, hanyalah pikirannya. Pikiran yang terkendali dapat mengendalikan semua! perasaan, lidah, dan perbuatan!

Jumat, 28 Juni 2013

Ice Cream Banana Split

Satu sore di sebuah mal, seorang anak berusia sekitar 8 tahun berlari kecil. Dengan baju agak ketinggalan mode, sandal jepit berlumur tanah, berbinar-binar senyumnya saat dia masuk ke sebuah counter es krim ternama.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia harus berjinjit di depan lemari kaca penyimpan es krim. Penampilannya yang agak lusuh jelas kontras dibanding lingkungan mal yg megah, mewah, indah dan harum. “Mbak, Sunday cream berapa?” si bocah bertanya, sambil tetap berjinjit agar pramusaji dapat melihat  sedikit kepalanya, yang rambutnya sudah lepek basah karena keringatnya berlari tadi.  “Sepuluh ribu!” yang ditanya  menjawab.

Si bocah turun dari jinjitannya, lantas merogoh kantong celananya, menghitung recehan dan beberapa lembar ribuan lusuh miliknya. Kemudian
sigap cepat si bocah menjinjit lagi. 

“Mbak, kalo Plain cream yang itu berapa?” Pramusaji mulai agak ketus, maklum di belakang pelanggan yang ingusan ini, masih banyak pelanggan “berduit” lain  yang mengantri. “Sama aja,  sepuluh ribu!” jawabnya. 

Si bocah mulai menatap tangannya di atas kantong, seolah menebak berapa recehan dan ribuan yang tadi dimilikinya. “Kalau banana split berapa, Mbak?” “Delapan ribu!” ujar pramusaji itu sedikit menghardik tanpa senyum.  

Berkembang kembali senyum si bocah, kali ini dengan binar mata bulatnya yang terlihat senang, "ya, itu aja Mbak, tolong 1 piring”. Kemudian si bocah
menghitung kembali uangnya dan memberikan kepada pramusaji yang sepertinya sudah tak sabar itu. 

Tidak lama kemudian sepiring banana split diberikan pada sibocah itu, dan pramusaji tidak lagi memikirkannya. Antrian pelanggan yang tampak lebih rapi dan berdandan trendi banyak sekali mengantri. Detik berlalu menit, dan menit berlalu. 

Si bocah tak terlihat lagi dimejanya, Cuma bekas piringnya saja. Pramusaji tadi bergegas membersihkan sisa pelanggan lain. Termasuk piring bekas banana split bekas bocah tadi. Bibirnya sedikit terbuka, matanya sedikit terbebalak.
 
Ketika diangkatnya piring banana split bocah tadi, di baliknya Ditemukan 2 recehan 500 rupiah dibungkus selembar seribuan. Apakah ini? Tips? Terbungkus rapi  sekali... rapi ! Terduduk si pramusaji tadi, di kursi bekas si bocah menghabiskan Banana splitnya. 

Ia tersadar, sebenarnya sang bocah tadi bisa saja Menikmati Splain Cream atau Sunday chocolate, tapi bocah itu mengorbankan keinginan pribadinya dengan maksud supaya bisa memberi tips kepada dirinya. Sisa penyesalan tersumbat di kerongkongannya.

Disapu seluruh lantai dasar mall itu dengan matanya, tapi bocah itu tak tampak lagi.

#NB: Penyesalan selalu datang belakangan. Hargailah sesama, tanpa memandang status sosial, membedakan orang kaya dan orang miskin dalam mengasihi. Selalulah berbuat baik, terhadap siapa saja, kapan saja, dan dimana saja engkau berada. Semoga bermanfaat.

Kamis, 27 Juni 2013

Tips Memuji dan Dipuji dalam Islam

Di antara fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, adalah fenomena pujian. Secara garis besar, pujian bisa diklasifikasikan dalam tiga bentuk: pujian yang diucapkan untuk menjilat, pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka, serta pujian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman.

Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Padahal Allah Swt. mengingatkan dalam firmanNya:

Artinya:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32). 

Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi Saw. memberikan tiga kiat yang sangat menarik untuk diteladani. Pertama, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Nabi Saw. menanggapinya dengan doa: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari). 

Lewat doa ini, Nabi Saw. mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.

Kedua, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita. Oleh sebab itu, kiat Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa: “Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari).

Dan kiat yang ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi Saw. mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi Saw. kemudian berdoa: “Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari).

      Selain memberikan teladan kiat menyikapi pujian, Nabi Saw. dalam keseharian beliau juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji. Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi Saw., yaitu di antaranya:

        Pertama, Nabi Saw. tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra).

Kedua, Nabi Saw. lebih sering melontarkan pujian dalam bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi Saw. tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra: “Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair). 

Begitu pula, di saat Nabi Saw.  melihat ketekunan Abu Hurairah ra. dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. dan menjadikan Abu Hurairah Ra sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi Saw. menegurnya: “Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra).

Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada Allah Swt. agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang. 

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat. Memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. Sehingga dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.

Oleh : Ustadz Abdullah Hakam Syah, Lc

JANGAN MENIPU DIRI SENDIRI DENGAN TERLENA OLEH PUJIAN

Seekor rubah melihat seekor burung gagak terbang dengan membawa sepotong keju di paruhnya dan hinggap di atas sebuah pohon.

"Hmm.... keju itu harus jadi milikku" gumam si Rubah.

Dan diapun berjalan mendekati batang pohon itu.

"Selamat siang Gagak yang cantik, si Rubah memuji." Betapa cantiknya kamu hari ini, Betapa mengkilapnya bulumu, Sungguh sangat indah sinar matamu, Saya yakin suaramu lebih indah dari burung burung yang lain.

Ijinkan saya mendengarkan satu lagu darimu, dan saya akan menyapa kamu dengan sebutan si Ratu Burung."

Burung gagak itupun mulai mengangkat kepalanya dan mencoba bernyanyi sebaik mungkin tetapi ketika dia membuka mulutnya, keju yang ada dimulutnya jatuh ke tanah, dengan seketika si Rubah menangkap keju yang jatuh tersebut.

"Haha, itulah yang akan saya lakukan, itulah yang saya inginkan, sebagai pertukaran dengan kejumu, Saya akan memberimu nasehat, untuk dimasa yang akan datang, bahwa jangan langsung percaya kepada orang yang memberimu pujian.

Cinta pujian dan takut dicaci merupakan ciri cinta dunia.
Kalau kita terjebak dengan menikmati pujian, maka kita akan masuk dalam perangkap ujub.
Indikasinya saat kita merasa shaleh, maka dengan itu akan terbentuklah hijab dirinya dengan Allah SWT.

Di lain hal, Allah SWT-lah yang mengatur dengan menggerakkan orang yang memuji, bisa jadi, dengan maksud untuk menguji kita, apakah akan jujur pada dirinya sendiri atau tidak.
 
Do'a ketika dipuji oleh orang:
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khairam mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

Artinya:
Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka. ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4:228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah).

Wassalam, Semoga bermanfaat.

Rabu, 26 Juni 2013

Cita-citanya Anak-anak



Pembaca yang budiman, sebenarnya seberapa pentingkah anak-anak kita memiliki cita-cita? Apa peran kita sebagai orang tua? Cita-cita anak sering muluk-muluk dan berubah-ubah karena dipengaruhi persepsi terhadap profesi tersebut. Ingin jadi polisi karena gagah, ingin jadi dokter karena ingin bantu yang lain. Maka tidak heran jika hari ini anak kita ingin menjadi dokter, besok mungkin ingin menjadi astronot.
Menurut psikolog keluarga dari jagadnita Consulting, Clara Istiwidarum Kriswanto, seperti dikutip oleh okezone.com, cita-cita sangat penting ditumbuhkan, karena dapat menjadi motivator untuk anak dalam mempelajari sesuatu. Menurut Clara, seorang anak dengan cita-cita yang jelas akan lebih termotivasi untuk mengembangkan diri, dibanding anak yang tidak tahu mau jadi apa atau tidak punya cita-cita. Maka orang tua perlu realistis akan kemampuan anak, apakah anaknya tergolong cerdas, rata-rata, atau bahkan kurang. Semua dapat dikembangkan seoptimal mungkin asal orangtua tidak bersikap memaksa.
Selanjutnya menurut pakar pendidikan Ella Yulaelawati, kecerdasan hanyalah perihal perbedaan kadar, yang terpenting adalah bagaimana menangkap dan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing anak. Pada dasarnya, tidak ada anak yang tidak mampu. Perbedaan mungkin disebabkan pengalaman belajarnya yang berbeda. Untuk itu, orangtua maupun guru disekolah sebaiknya memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya.

Sumber: Majalah Paras.

Senin, 24 Juni 2013

Kapankah Kita??

“Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah semua amal perbuatannya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan Anak soleh yang mendoakan orang tuanya”. (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Orang tua bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. Siang malam bekerja tak kenal lelah hanya supaya kita bisa makan dan membuat kita senang. Kita dirawat dari bayi sampai sekarang dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih. Apapun semua kelebihan dan kekurangan kita, tak menjadikan sedikitpun cinta mereka berpaling dari kita. Kita sering menyusahkan mereka, mengecewakan mereka, membuat sakit hati mereka bahkan sampai linangan air matanya membanjiri pipi kerut mereka. Tapi tanpa kita minta, lautan maaf dari mereka kita terima begitu saja kadang tanpa ada rasa penyesalan dari kita.

Kasih sayangnya…
Perhatiannya…
Pengorbanannya…

Tak bisa digantikan sesuatu apapun di dunia ini.
Tapi bagaimana dengan kita, kapan kita bisa membuat orang tua kita bahagia?

Rabu, 19 Juni 2013

CIRI-CIRI SUAMI IDAMAN PARA ISTERI

  1. Ia pandai menumbuhkan suasana yang damai, tenteram serta penuh kasih sayang kepada keluarga.
  2. Ia mempunyai sifat ramah dan penuh pengertian dalam keluarga.
  3. Ia selalu membimbing isterinya agar selalu taat serta bertakwa kepada Allah dan RasulNya. 
  4. Ia setia dan bertanggung jawab dalam segala urusan rumah tangga.
  5. Ia bertanggung jawab menafkahi isteri dengan cukup, baik nafkah lahir maupun nafkah batin.
  6. Ia menyempatkan diri dan tidak segan-segan mengajari ilmu agama kepada isterinya.
  7. Ia tulus menerima apa adanya keadaan isteri dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Baik itu keadaan fisik maupun sifat-sifat yang ada pada isterinya. 
  8. Ia tidak mudah marah ketika ada perselisihan dalam rumah tangga.
  9. Ia selalu mencari solusi dan jalan keluar yang baik untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi dalam keluarganya.
  10. Ketika hendak bepergian ia selalu pamit serta memberitahukan tujuan kepada isterinya.
  11. Ia tak lelah untuk menasehati dengan sebaik-baiknya jika isterinya berbuat kesalahan. Serta membimbingnya ke jalan yang benar.
  12. Ia tidak membebani isterinya dengan persoalan yang masih bisa diselesaikannya sendiri.
  13. Ia selalu meluangkan waktu untuk bersantai dan bercengkrama bersama isteri dan anak-anaknya.
  14. Jika seorang suami mampu bersikap seperti diatas pada isterinya dalam sebuah keluarga, maka insyaAllah akan terbangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah warahmah.
Ya Allah..
Pertemukanlah kami dengan suami yang demikian.
Aamiin.

Antara Agresif, Pasrah Dan Proaktif

Jodoh adalah rahasia Allah SWT, yang kadang tak terduga datangnya. Dalam masa 'penantian' yang tak kunjung datang, seorang akhwat dapat memilih untuk bertindak yang sesuai dengan keinginannya. Ada tiga bentuk sikap yang bisa dilakukan oleh para muslimah dalam masa penantian ini, yakni; agresif, pasrah dan proaktif.

Karena terlalu cemas, ada sebagian yang memilih untuk bersikap agresif. Melakukan pendekatan kepada siapapun yang dianggap potensial untuk menjadi pasangan hidup dengan berbagai cara. Kadang tanpa perduli norma dan aturan agama.

Sikap ini ini bisa 'membahayakan' bagi seorang perempuan. Karena ketergesa-gesaannya bisa berakibat tidak baik. Misalnya saja dia tidak akan selektif dalam memilih siapa calon suaminya. Kriteria-kriteria suami idaman pun kabur tertiup oleh desakan-desakan keluarganya. Akibat yang paling buruk dari sikap ini adalah timbul penyesalan dikemudian hari. Tumbuhnya kekecewaan pada pasangan karena tidak terlalu mengenal karakternya yang berujung pada perceraian. Naudzubillah min dzalik!

Sikap kedua adalah sikap pasrah, sikap ini biasanya memiliki alasan, "ya....daripada jadi perawan tua, lebih baik saya terima." Ada mungkin sebagian akhwat yang berfikir demikian, atau akan berfikir demikian. Biasanya ia tidak kuat menahan desakan orang tua atau keluarganya. Karena orang tua tidak ingin melihat anaknya menjadi perawan tua, maka ia mencarikan jodoh buat anaknya. Seandainya orang tua memahami betul kriteria-kriteria seorang suami yang shalih, maka hal ini tentunya baik bagi si gadis, akan tetapi akan menjadi permasalahan yang serius ketika orang tuanya asal mencarikan laki-laki yang menjadi calon pasangan anaknya.

Kebanyakan orang tua sekarang pertimbangannya sangat pragmatis. Dia mencari jodoh buat anaknya dengan hanya menggunakan pertimbangan materi. Sehingga laki-laki yang dianggap berkecukupan, memiliki pekerjaan tetap maka dia layak jadi menantunya. Pertimbangan agama sama sekali dikesampingkan.

Dalam hal inilah sang akhwat dalam posisi dilematis. Untuk menolak jelas tidak mungkin, karena dia tidak punya alternative. Untuk menerima terasa berat, karena laki-laki yang dibawa orang tuanya sangat jauh dari criteria suami idamannya. Akhirnya dengan berat hati ia menerima laki-laki itu sebagai suaminya.

Pilihan yang paling cocok saat 'penantian' bagi akhwat adalah sikap proaktif. Bersikap proaktif bukan berarti pasrah tanpa usaha sama sekali, namun bukan pula bertindak tanpa perhitungan dan pertimbangan. Sikap proaktif itu berarti berdoa sekaligus melakukan upaya yang dibenarkan agama untuk merealisasikan doa tersebut.

Ada sebagian akhwat yang berpendapat, "kalau memang jodoh merupakan bagian dari takdir Allah, mengapa kita harus mengejarnya? Bila sudah takdir pasti akan datang sendiri?" saya kira inilah kekeliruan logika sebagian manusia. Allah telah menetapkan takdir bagi kita para hambaNya. Yang mengetahui takdir hanya Allah semata, kita tidak tahu bagaimana nasib kita besok. Ketika kita tidak tahu takdir yang akan kita terima, sedang kita diperintah untuk melakukan kebaikan maka kita sebagai mukmin harus memilih jenis perbuatan yang baik.

Kita sebagai manusia dianugerahi akal dan pikiran. Disamping itu kita juga diberi hak ikhtiar (berusaha). Kita juga diberi pedoman berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah, sehingga bisa membedakan kebaikan dan keburukan. Dengan begitu kita justru dituntut untuk berusaha dan beramal. Wallahua'lam bishshawab.

Semoga bermanfaat. Wassalam.

Ilustrasi Manajemen waktu

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Kamis, 28 Juni 2012

DIBANGUNKAN BIDADARI


ABU SULAIMAN AD DARANI menceritakan bahwa ketika sujud secara tidak segaja ia tertidur. Saat dia terlelap dalam sujud, mendadak seorang bidadari menyepaknya.

Bidadari itu berkata, “Sayangku, apakah kedua matamu tidur dan terpejam? Sementara Sang Raja terbangun melihat mereka tahajud dalam tahajudnya? Betapa buruk mata yang memilih kenikmatan tidur daripada munajat kepada Sang Maha Agung. Bangunlah! Sebab waktunya hampir tiba. Sebagian kekasih bertemu dengan sebagian yang lain. Kenapa engkau tidur kekasihku? Kekasihku dan sayangku, kenapa engkau tidur, padahal aku mengawasimu di dalam pengasingan ini.


Karena terkejut dengan hebatnya, Abu Sulaiman terbangun dan melompat. Badannya keluar keringat karena malu disindir bidadari itu.
***

Kisah ini menggambarkan bagaimana pola hidup para sufi yang menjadi kekasih Allah. Mereka sangat menjaga ibadahnya, kekhusyukan shalat dan do’a, sehingga tertidur dalam tidur. Bahkan, ketika Abu Sulaiman tertidur tanpa sengaja, ia terbangun oleh adanya bidadari. Itulah kenikmatan hidup yang tidak dimiliki dan tak diperoleh mereka yang hidupnya hanya dihabiskan untuk mngejar kenikmatan dunia, kemewahan dan kemegahan, serta keuntungan fana.

Rabu, 18 April 2012

SETIAP WANITA CANTIK


SETIAP WANITA CANTIK

     Seorang anak laki-laki bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?".  
     "Karena aku seorang wanita," dia berkata kepada anaknya.
      "Aku tidak mengerti," jawab anak laki-laki tersebut.
     Sang ibu memeluk anaknya dan berkata "Dan kau tidak akan pernah mengerti",
     Kemudian anak laki-laki tersebut bertanya kepada ayahnya "Mengapa ibu menangis tanpa ada alasan?"
     "Semua wanita menangis tanpa ada alasan," hanya itu yang bisa dikatakan ayahnya.
     Anak laki-laki itu tumbuh dan menjadi seorang laki-laki dewasa, dan tetap merasa heran mengapa wanita menangis. Akhirnya dia menelepon Tuhan, dan ketika sudah terhubung, dia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"
     Tuhan berkata "Aku menciptakan wanita istimewa.  Aku menciptakan baginya bahu yang kuat untuk memikul beban dunia, tapi begitu lembut sehingga dapat memberikan kenyamanan."
     "Aku memberinya kekuatan untuk melahirkan dan menahan penolakan yang kerap muncul dari anak-anaknya".
     "Aku memberinya keteguhan yang membuatnya dapat tetap bertahan di saat semua orang sudah menyerah, dan tetap memperhatikan keluarganya tanpa mengeluh saat sedang lelah maupun sakit."
     "Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam keadaan apapun, meskipun mereka menyakitinya.".
     "Aku memberinya kekuatan untuk bisa memaklumi kesalahan-kesalahan suaminya, menciptakannya dari tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya"
     "Aku memberinya kearifan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik tidak akan pernah menyakiti istrinya, tetapi kadang-kadang menguji kekuatan dan ketetapan hatinya untuk tetap teguh mendampingi suaminya",.
      "Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dicurahkan. Ini khusus miliknya untuk digunakan kapanpun diperlukan."
     "Kau lihat: Kecantikan seorang wanita tidak terletak pada pakaian yang dikenakannya, penampilan fisiknya, atau cara dia menyisir rambutnya.".
      "Kecantikan seorang wanita dapat dilihat melalui matanya, karena mata adalah pintu menuju hatinya, tempat dimana cinta bersemayam.
     "Setiap Wanita Cantik

Wanita Tercantik



Masih ingatkah kisah Penyihir Jahat dalam cerita Snow White? Penyihir bertubuh ramping, berbibir tipis dengan jemari yang sangat lentik dan berkuku tajam? Dengan hidungnya yang terlalu mancung, membuatnya menjadi bukan hanya cantik tetapi sekaligus menyeramkan, dan berkali kali dia bertanya kepada cermin, ”Wahai cermin, cerminku yang ajaib. Siapakah wanita tercantik di dunia ini?” Jawab cermin yang agak ketakutan, ”Dulu memang kamu, tapi sekarang ssssssnooww white hffhhhp….. Desis cermin khawatir dirinya pecah terkena pukulan Si Penyihir Jahat. Dan ketika melihat bedanya Snow White dangan Si Penyihir, sejenak kita akan melihat perbedaan dan kemudian menyetujui bahwa si cermin benar. Bahwa Snow White lebih cantik dari Sang Penyihir, tetapi bukanlah yang tercantik di dunia ini! Lalu, siapakah wanita tercantik di dunia ini? Jawabannya tergantung pada bagaimana media menampilkan sosok wanita dalam berbagai tampilan.

Hampir semua orang di dunia ini sepakat bahwa wanita tercantik adalah wanita yang memiliki tubuh ramping, pinggang kecil, betis membujur, rambut panjang dan pirang, kulit putih, bibir kecil dan penuh, hidung mancung, dan mata berbinar. Subhanallah bila melihat bagaimana kita di Indonesia dengan kulit sawo matang yang ada dimana mana, dan hampir bisa dipastikan bahwa sebagai wanita berkulit sawo matang, akan mengundurkan diri dari balik cermin Si Penyihir.

Kita tidak akan masuk kriteria wanita tercantik itu. Kemudian kita menggunakan cream pemutih wajah, jamu peramping perut dan conditioner herbal penumbuh rambut agar panjang dan ikal. Ini semua menjadikan wanita menjadi tidak percaya diri terhadap inner beauty yang telah ALLAH SWT berikan padanya sejak lahir, dan akan menunjukkan auranya ketika sudah mencapai akil baligh. Sekarang kalau ditanya siapakah wanita yang tercantik atau dianggap cantik di muka bumi ini? Maka persepsi yang ditanamkan media, dengan dipelopori dunia barat, segera menunjuk gadis berkulit putih yang tinggi semampai, dan rambut pirang kecoklatan, berbaju sexy terbuka, memperlihatkan aurat yang harusnya ditutupi dan menjadikan semua terbuka agar semakin nampak kecantikannya. Apabila telah terpilih sebagai wanita tercantik di seluruh dunia, maka semua wanita akan berlomba untuk mengikuti gaya dan penampilan sang wanita tercantik di seluruh dunia ini.

Bila kondisi si wanita tidak memiliki kulit putih, tidak bertubuh ramping dan tidak berambut panjang, maka dengan wajah malu dan rupa minder sang wanita beranjak ke belakang dan merasa dirinya buruk. Masya ALLAH, padahal sudah jelas dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ALLAH menciptakan manusia dengan sebaik baik bentuk: “Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim” artinya : “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” ( Qs. 95 : 4 ). Siapakah yang membuat standar penilaian terhadap ciptaan ALLAH yang Maha Kuasa? Wahai para wanita percayalah bahwa wanita tercantik adalah wanita yang mampu memahami bahwa dia diciptakan dengan sebaik baik bentuk dan dia diciptakan adalah untuk beribadah: “wa maa kholaqtuljinna wal insa illa liya’buduun” artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. 51 : 56).

Renungkanlah, bahwa cantik itu bukan berasal dari fisikmu tapi cantik itu berasal dari dalam dirimu (hati).
You are beautiful, beautiful.. Kamu cantik, cantik hatimu.. ^_^

IKHTILAT YANG DIPERBOLEHKAN



Ada beberapa istilah yang masuk di dalam kamus modern kita yang maknanya belum kita ketahui sebelumnya, di antaranya adalah kata “lkhtilath” antara laki-laki dan wanita. Karena wanita pada masa kenabian dan masa sahabat dan tabi’in juga bertemu dengan laki-laki, demikian jaga laki-laki juga bertemu dengan kaum wanita di berbagai acara yang beragam, baik itu yang bersifat agamis maupun masalah keduniaan. Hal itu tidak dilarang secara mutlak, bahkan diperbolehkan apabila diketahui secara jelas sebab dan alasannya dan terpenuhi kriterianya, dan mereka tidak menamakan itu sebagai ikhtilath.

Kemudian istilah ini menjadi populer dewasa ini, saya sendiri tidak tahu sejak kapan pemakaian itu dimulai dengan maknanya yang asing bagi perasaan Muslim dan Muslimah. Karena mencampur sesuatu dengan sesuatu yang lain berarti melarut seperti bercampurnya garam atau gula dengan air.

Yang penting di sini kita tegaskan bahwa tidak semua ikhtilath itu dilarang sebagaimana itu difahami oleh da’i-da’i yang ekstrim dan sempit pemikirannya. Dan tidak pula setiap ikhtilath itu diperbolehkan, sebagaimana diikuti oleh da’i-da’i sekuler yang suka mengekor Barat.

Permasalahan ini telah saya bahas dan saya jawab bersama dengan beberapa persoalan lainnya di dalam kitab saya “Fatawa Mu’ashirah” juz dua. Di antaranya hal-hal yang berkaitan dengan ikhtilath, mengucapkan salam kepada wanita, salaman, laki-laki menjenguk wanita yang sakit atau sebaliknya, dan lain-lain.

Yang ingin saya ingatkan di sini adalah sesungguhnya kewajiban kita adalah hendaknya kita beriltizam terhadap sebaik-baik petunjuk, itulah petunjuk Nabi SAW dan petunjuk Khulafaur Rasyidin dan para sahabatnya, jauh dari pemahaman Barat yang cenderung menghalalkan (segala sesuatu) dan cara orang timur yang ekstrim. Barangsiapa yang merenungkan petunjuk Nabi SAW maka ia mengetahui bahwa wanita bukanlah orang yang dipenjara, bukan pula orang yang terisolir sebagaimana hal itu pernah terjadi pada masa-masa kemunduran ummat Islam.

Wanita dahulu ikut datang berjamaah dan shalat Jum’at di masjid Rasulullah SAW. Nabi SAW memerintahkan kepada mereka agar mengambil shaf-shaf yang terakhir yaitu di belakang shaf laki-laki. Semakin shaf itu lebih dekat ke bagian belakang maka semakin mulia karena takut kalau aurat wanita itu nampak di hadapan kaum laki-laki dan mayoritas mereka para sahabat dahulu tidak mengenal celana, dan tidak ada dinding atau kayu yang membatasi antara kaum wanita dengan pria.

Mereka pada awalnya, laki-laki dan wanita masuk pintu mana saja yang mereka sepakati, sehingga terkadang terjadi bersimpangan antara yang masuk dan yang keluar. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Alangkah baiknya jika pintu ini kalian khususkan untuk wanita.” Akhirnya mereka mengkhususkan pintu itu untuk kaum wanita sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama “Babun Nisa’” (pintu khusus wanita).

Kaum wanita di masa kenabian ikut datang shalat jum’at dan mendengarkan khutbah, hingga ada salah seorang di antara mereka yang hafal surat “Qoof” dari lisan Rasulullah SAW karena seringnya ia mendengarkan dari mimbar jum’at. Wanita dahulu juga ikut datang melakukan dua shalat ‘Ied, dan ikut serta dalam festifal Islami yang menghimpun orang-orang dewasa dan anak-anak kecil, laki-laki dan wanita di tanah terbuka, mereka bertahlil dan bertakbir bersama. Imam Muslim meriwayatkan dari Ummi ‘Athiyah, ia berkata, “Kita (kaum wanita) dahulu diperintahkan untuk keluar pada ‘ledain (dua hari raya), wanita yang dipingit dan yang masih gadis.”

Dalam riwayat lain ia berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk menyuruh mereka keluar pada ledul Fithri dan ledul Adha, baik wanita-wanita baligh, wanita yang sudah datang bulan maupun yang dipingit. Adapun orang yang haid maka dijauhkan dari tempat shalat, mereka juga menghadiri kebaikan-kebaikan dan undangan kaum Muslimin,” aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ada di antara kami yang tidak mempunyai jilbab.” Nabi bersabda, “Hendaknya saudaranya mengenakan jilbabnya kepadanya,” artinya meminjamkannya.

Inilah sunnah yang dimatikan oleh ummat Islam di sebagian besar negara-negara atau bahkan seluruhnya, kecuali yang akhir-akhir ini dilaksanakan oleh para pemuda shahwah Islamiyah yang berupaya menghidupkan sebagian sunnah yang ditinggalkan. Seperti sunnah I’tikaf pada sepuIuh hari terakhir di bulan Ramadhan dan sunnahnya wanita menghadiri shalat ‘led.

Wanita dahulu ikut menghadiri majelis-majelis ilmu bersama kaum laki-laki di sisi Nabi SAW dan mereka juga bertanya tentang masalah agama mereka yang saat ini kebanyakan wanita merasa malu. Sehingga ‘Aisyah RA sempat memuji wanita-wanita Anshar, bahwa mereka itu tidak malu-malu untuk bertanya masalah agama, sehingga mereka bertanya tentang janabat, mimpi, mandi besar, haid, istihadhah dan yang lainnya.

Mereka bahkan tidak puas mengaji bersama-sama kaum laki-laki sehingga meminta secara khusus kepada Rasulullah SAW untuk diberikan kesempatan di hari tertentu khusus untuk mereka. Mereka mengatakan “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah mengalahkan kami untuk (mengaji kepadamu), oleh karena itu khususkanlah hari untuk kami,” maka Nabi SAW menjanjikan mereka hari tertentu untuk memberi nasihat kepada mereka.” (HR. Bukhari).

Aktivitas wanita juga sampai pada keikutsertaan mereka dalam peperangan dan jihad dalam memberikan pelayanan kepada para tentara dan mujahidin dengan kemampuan yang mereka miliki dengan baik. Berupa perawatan dan pertolongan pertama dan merawat orang-orang yang terluka, selain juga memberikan pelayanan-pelayanan lainnya, seperti memasak makanan dan minuman dan mempersiapkan apa-apa yang diperlukan oleh para mujahidin.

Dari Ummi ‘Athiyah, ia berkata, “Saya pernah berperang bersama Rasulullah SAW sebanyak tujuh peperangan, saya membelakangi mereka dalam keberangkatan mereka, maka saya membuat untuk mereka makanan dan mengobati orang-orang yang terluka, dan merawat orang-orang yang sakit.” (HR. Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa sesungguhnya ‘Aisyah dan Ummu Sulaim pada perang Uhud juga ikut berperang aktif membawa qirbah (tempat minuman) di atas punggungrya, kernudian menuangkan air ke mulut orang-orang (mujahidin), kemudian mereka berdua kernbali memenuhi qirbah itu. (HR. Muslim)

Keberadaan Aisyah di sini dalam usia belasan tahun menolak orang-orang yang mengatakan bahwa keikutsertaan wanita dalam peperangan itu hanya boleh untuk wanita-wanita yang tua usianya. Pendapat ini tidak bisa diterima, sebab apa artinya nenek-nenek dalam suasana peperangan yang menuntut kekuatan fisik dan perasaan sekaligus.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ada enam wanita dari wanita-wanitanya orang-orang yang beriman dahulu ikut bersama tentara mengepung Khaibar. Mereka ikut memegang anak panah, memberi minum dan mengobati orang-orang yang terluka, bersenandung dengan syair-syair dan membantu di jalan Allah. Nabi SAW telah memberi mereka ghanimah.

Bahkan ada riwayat shahih yang menjelaskan bahwa sebagian isteri-isteri sahabat ikut serta dalam sebagian peperangan Islam dengan membawa senjata ketika mereka diberi kesempatan untuk itu. Sebagaimana itu dilakukan oleh Ummu ‘Imarah Nasibah binti Ka’b, pada hari perang Uhud, hingga Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh posisi dia lebih baik daripada posisi fulan dan fulan.” Demikian juga yang dilakukan oleh Ummu Sulaim yang membawa clurit pada hari perang Hunain ia merobek perut musuh yang mendekat kepadanya.

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Anas (putra Ummu Sulaim) bahwa Ummu Sulaim pernah membawa cIurit pada waktu perang Hunain, maka suaminya yang bernama Abu Talhah melihatnya dan berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim, ia membawa clurit.” Maka Nabi SAW bertanya kepada Ummu Sulaim, “Untuk apa clurit itu?” Ummu Sulaim menjawab, “Aku ambil karena jika ada salah seorang dari kaum musyrikin mendekati aku maka aku akan merobek perutnya dengan cIurit itu, ” kemudian Rasulullah SAW tersenyum.” (HR. Muslim). Demikian juga Imam Bukhari membuat bab tersendiri di dalam shahihnya mengenai peperangan kaum wanita.

Keinginan wanita muslimah di masa kenabian dan sahabat dahulu tidak hanya terhenti pada keikutsertaan mereka dalam peperangan sampai wilayah sekitarnya seperti Khaibar dan Hunain. Akan tetapi keinginan mereka sampai menyeberangi lautan dan ikut andil di dalam menaklukkan negara-negara yang jauh untuk menyampaikan risalah Islam.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW ber-qailulah (tidur siang) di dekat Ummi Haram Binti Milhan (bibi Anas) pada suatu hari. Kemudian Nabi bangun dan tertawa, maka Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Ada manusia dari ummatku yang ditawarkan kepadaku untuk berperang di jalan Allah, mereka menyeberangi lautan seperti raja di atas singgasananya.” Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, doakan kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk mereka,” maka Nabi SAW mendoakan untuknya . (HR. Muslim)

Dan ternyata Ummu Haram ikut menyeberangi lautan pada masa Utsman bersama suaminya ‘Ubadah Ibnu Shamit ke Qubrush (Siprus). Akhirnya ia diseruduk oleh kudanya di sana dan akhirnya wafat dan dikubur di tempat itu. Dalam kehidupan sosial, wanita ikut serta dalam mendakwahkan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Sebagaimana firman Allah SWT:  “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma ‘ruf, mencegah dari yang munkar.” (At-Taubah: 71).

Di antara peristiwa yang masyhur adalah bantahan salah seorang muslimat kepada Umar di masjid, dalam masalah mahar (maskawin), dan kesiapan Umar untuk mengikuti pendapatnya secara terang-terangan. Umar berkata, “Wanita itu benar dan Umar salah.” Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya di surat An-Nisa’. Ibnu Katsir berkata, “Isnadnya jayyid.” Ada seorang wanita yang ditunjuk (ditetapkan) oleh Umar ketika beliau menjadi khalifah untuk berdakwah di pasar, yaitu Syifa’ binti Abdullah Al ‘Adawiyah.

Siapa yang merenungkan Al Qur’an Al Karim dan pembicaraannya mengenai wanita dalam berbagai masa dan dalam kehidupan para Nabi dan Rasul, maka tak akan terasa adanya tirai besi yang dibuat oleh sebagian manusia antara laki-laki dan wanita. Maka kita jumpai Musa ketika masih muda dan kuat berbicara dengan dua gadis putri Syaikh Kabir (Nabi Syu’aib) dan bertanya kepada keduanya, dan kedua gadis itu pun menjawab pertanyaan Musa tanpa perasaan dosa dan berat. Musa membantunya dengan penuh kesopanan dan hormat. Setelah peristiwa itu, salah satu dari keduanya datang sebagai utusan dari ayahnya untuk mengundang Musa agar pergi bersamanya menuju ayahnya.

Kemudian salah satu dari keduanya usul kepada ayahnya setelah itu agar ayahnya menjadikan Musa sebagai pelayan (pembantu) ayahnya karena melihat kekuatan dan kejujuran Musa.

           Al Qur’an menjelaskan: “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang rnemberi minum (meminumkan) ternaknya, dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menambat (ternaknya). Musa berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknnya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu’aib berkata, “Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu.” Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “Hai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al Qashas: 23-26).

Di dalam kisah Maryam kita dapatkan Zakaria masuk ke mihrabnya dan bertanya kepadanya mengenai rizki yang dia jumpai di sisi Maryam. “Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria bertanya, “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakinya tanpa hisab.” (Ali ‘Imran: 37).

Di dalam kisah Ratu Saba’ (Bilqis) kita lihat ia mengumpulkan kaumnya untuk diajak bermusyawarah menanggapi surat dari Sulaiman. “Berkata dia (Bilqis), “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan karnu perintahkan. Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang rnulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat….” (An Naml: 32-34)

Demikian juga Bilqis berdialog dengan Sulaiman AS dan Sulaiman pun berbicara dengannya. Allah berfirman: “Dan ketika Bilqis datang, ditanyakanlah kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab, “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapnya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, “Sungguh ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Bilqis, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (An-Naml: 42-44)

Tidak bisa dikatakan bahwa sesungguhnya ini syari’at ummat sebelum kita, maka tidak wajib bagi kita. Karena sesungguhnya Al Qur’an tidak menyebutkan hal itu kepada kita kecuali untuk petunjuk, peringatan dan ibrah bagi orang-orang yang berakal. Oleh karena itu kesimpulan yang benar adalah, “Sesungguhnya syari’at ummat sebelum kita yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan As-Sunnah itu juga syari’at untuk kita selama tidak ada dari syari’at kita yang menghapusnya.”

Allah SWT berfirman:
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alah, maka ikutilah petunjuk mereka….” (Al An’am: 90). Sesungguhnya menahan wanita di rumah dan membiarkannya tetap berada di antara empat dinding, tidak boleh keluar dari rumah–sebagaimana dijelaskan oleh Al Qur’an dalam salah satu tahapan dari tahapan tasyri’ sebelum nash atas hukum zina yang diketahui–itu merupakan sanksi yang berat bagi orang yang berbuat zina dari wanita-wanita kaum Muslimin.

Allah SWT berfirman:
“Dan terhadap para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadannya.” (An-Nisa’: 15) . Dan sungguh Allah telah memberi jalan keluar setelah itu yaitu dengan ditetapkannya hukum “Had” yaitu hukuman yang ditentukan di dalam syari’at sebagai hak Allah SWT. Yaitu cambuk bagi orang yang belum menikah dan rajam bagi orang yang sudah menikah.

Bagaimana mungkin bisa diterima dalam logika Al Qur’an dan Islam bahwa pengurungan wanita di rumah merupakan ciri khas dari seorang wanita Muslimah yang komitmen dan yang terpelihara. Kalau memang demikian berarti kita telah memberikan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang berat dan lama, padahal ia tidak berbuat dosa.

Kesimpulannya, bahwa pertemuan antara laki-laki dan kaum wanita pada dasarnya diperbolehkan dan tidak dilarang, bahkan kadang-kadang diperlukan jika tujuannya adalah kerja sama dalam mencapai tujuan yang mulia. Seperti dalam majelis ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, atau proyek kebajikan, atau jihad yang diharuskan dan lain sebagainya yang menuntut potensi yang prima dari dua jenis manusia, serta kerja sama antara keduanya di dalam merencanakan, mengarahkan dan melaksanakan.

1. Syubuhat dan Pendukung Kebebasan Ikhtilath
lnilah sikap Islam, dan itulah pandangannya mengenai hubungan laki-laki dengan wanita. Pertemuan keduanya untuk berbuat baik dan ma’ruf, inilah yang kita istilahkan “Ikhtilath Masyru’.”

Akan tetapi ghazwul fikri telah mencetak di negara kita suatu kaum yang telinga mereka ‘budek’ dari hukum Allah dan Rasul-Nya dan mengajak kita untuk melepaskan wanita secara bebas di tangan orang lain sehingga kokoh eksistensinya, nampak menonjol syakhsiyahnya dan dapat dinikmati kewanitaannya. Ia bergaul dengan laki-laki tanpa ikatan dan secara terang-terangan. la pergi sendirian bersamanya dan menemaninya di gedung bioskop atau begadang bersamanya sampai tengah malam, berdansa bersamanya dengan musik-musik, dan sebagainya.

Mereka yang mengaku dirinya sebagai malaikat yang suci itu mengatakan, “Janganlah kalian takut kepada wanita dan jangan pula khawatir kepada laki-laki dengan hubungan yang ‘terhormat’ ini dan persahabatan yang bebas serta pertemuan yang mulia, sesungguhnya jeritan syahwat karena seringnya bertemu itu akan hilang dan kencangnya akan kendor serta sinarnya akan padam, dan masing-masing dari laki-laki dan wanita merasakan nikmatnya sekedar bertemu dan menikmati pandangan dan berbicara, dan jika perlu maka dengan berdansa, karena itu merupakan salah satu bentuk dari ungkapan seni yang ‘bernilai tinggi’.”

2. Bantahan Terhadap Pendukung Kebebasan Ikhtilath
Kita menolak semua pengakuan tersebut di atas dari dua sisi sebagai berikut:
1. Sesungguhnya kita adalah orang Islam sebelum itu semua. Kita tidak ingin menjual agama kita karena mengikuti keinginan orang-orang Barat atau timur. Dalam hal ini agama kita (Islam) mengharamkan kepada kita ikhtilath (pergaulan bebas) seperti itu, yaitu dengan adanya tabarruj, munculnya fitnah dan terbukanya peluang untuk menyeleweng.

Allah SWT berfirman,
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa” (Al Jaatsiyah: 18-19)

2. Sesungguhnya Barat sendiri–yang selama ini diikuti–saat ini merasakan sakit akibat dari kebebasan yang terlepas dari nilai-nilai agama, yang merusak putera puteri mereka dan telah mengancam peradabannya menuju kehancuran dan porak poranda.

Di Amerika dan Swedia dan negara-negara lainnya dari negara-negara penganut seks bebas telah menetapkan hasil statistik bahwa kepuasan syahwat tidak bisa padam (dipenuhi) hanya dengan kebebasan bertemu dan berbicara, tidak pula dengan apa yang terjadi setelah pertemuan dan berbicara, tetapi manusia semakin lama semakin haus. Kita harus meneliti apa yang terjadi akibat kebebasan dan kemajuan, terlepas dari beberapa gelintir keunggulan yang dimiliki masyarakat Barat modern saat ini.

3. Pengaruh Pergaulan Bebas di Masyarakat Barat
Sesungguhnya jumlah dan peristiwa serta data yang diperoleh dari hasil statistik itulah yang berbicara dan menjelaskan masalah tersebut. Sungguh telah nampak pengaruh kebebasan seks yang sampai saat ini masih menjadi problem bagi laki-laki dan wanita sebagai berikut:

1. Dekadensi Moral
Kendornya nilai-nilai akhlaq dan dominasi syahwat, menangnya sifat kebinatangan atas sifat kemanusiaan, hilangnya rasa malu dan pemeliharaan antara kaum wanita dan kaum pria dan ketidaktenangan masyarakat, seluruhnya disebabkan karena pergaulan bebas.

Seorang mantan presiden AS bernama Kennedy mengatakan dalam wawancaranya dengan wartawan pada tahun 1962, “Sesungguhnya pemuda Amerika telah larut, berfoya-foya, sudah terlepas dari ikatan, dan tenggelam dalam syahwat. Di antara tujuh pemuda yang mendaftar untuk menjadi tentara didapatkan dari tujuh itu enam pemuda yang tidak sehat, disebabkan mereka terjerumus dalam syahwat… dan saya peringatkan bahwa pemuda seperti itu merupakan ancaman besar bagi masa depan Amerika.”

Di dalam buku yang disusun oleh direktur pusat penelitian di Universitas “Harvard” dengan thema “Revolusi Seks” penulis menegaskan bahwa Amerika telah sampai pada bahaya besar dalam kerusakan seks. Dan Amerika sedang menuju pada kondisi yang sama yang menyebabkan jatuhnya dua peradaban Ighriqiyah dan Rumawi pada masa lalu. Ia mengatakan, “Sesungguhnya kita sudah dikepung dari seluruh arah dengan aliran ganas dari seks yang menenggelamkan seluruh kamar dari struktur peradaban kita dan seluruh bidang dari kehidupan kita secara menyeluruh.”

Meskipun orang-orang Komunis sedikit sekali berbicara mengenai masalah-masalah seks, meskipun mereka tidak mengizinkan kepada mass media untuk meliputnya, tetapi pada tahun 1926 telah keluar pernyataan dari presiden Rusia “Khrusyuf” bahwa para pemuda (Rusia) telah menyimpang dan dirusak oleh kemewahan, ia juga memperingatkan bahwa telah dibuka di Serbia pos-pos militer baru untuk menghabisi pemuda-pemuda yang menyeleweng, karena itu merupakan bahaya atas masa depan Rusia.
           
2. Banyaknya Anak-anak yang Dilahirkan Secara Tidak Sah
lni merupakan fenomena umum yang disebabkan terlepasnya keinginan syahwat dan larutnya batas-batas antara para pemuda dan pemudi. Sebagian lembaga di Amerika membuat statistik untuk orang-orang yang hamil di luar pernikahan di kalangan pelajar SMA, ternyata jumlahnya sangat mengerikan.

Mari kita perhatikan data statistik terbaru dalam masalah ini: bahwa sepertiga kelahiran anak tahun 1983 di New York adalah anak-anak yang tidak sah, artinya mereka dilahirkan diluar pernikahan. Mayoritas mereka dilahirkan oleh gadis berusia 19 tahun ke bawah, dan jumlah mereka adalah 112.353 anak atau 37 % dari jumlah anak-anak yang dilahirkan di New Yorkl!.”30)

3. Banyaknya Gadis yang Tua belum menikah dan Pemuda yang membujang
Sesungguhnya adanya sarana yang mudah untuk memenuhi syahwat tanpa memikul beban pernikahan dan membina rumah tangga menjadikan kebanyakan para pemuda memilih cara yang termudah dan menghabiskan masa mudanya untuk ini dan itu. Menikmati lezatnya hubungan seks yang bervariasi, tanpa terikat dengan kehidupan monoton yang berulang kali sebagaimana yang mereka kira, tanpa menanggung beban tanggung jawab berkeluarga, dan sebagainya.

Di antara dampak dari itu semua adalah banyaknya para gadis-gadis muda yang menghabiskan masa mudanya tanpa suami yang tinggal bersamanya kecuali laki-laki yang bemain-main dan menjadikannya sebagai alat hiburan yang diharamkan. Selain itu juga banyak dari para pemuda yang membujang kehilangan ikatan kehidupan berumah tangga, sebagaimana hal itu dibuktikan dalam data statistik. Telah dinyatakan oleh direktur urusan statistik Amerika pada tanggal 22 Dzul Qa’idah 1402 bersamaan dengan 10 September 1982 M, bahwa untuk pertama kalinya terjadi sejak permulaan abad ini sebagian besar penduduk kota San Fransisco adalah para pembujang.
Brosh Syambman menjelaskan dalam muktamar pers yang diadakan oleh lembaga sosial Amerika bahwa 53% penduduk San Fransisco tidak menikah. Dan ia menjelaskan tentang keyakinannya bahwa jumlah tersebut mungkin menjadi suatu isyarat atas contoh keluarga yang paling menyedihkan. Syambman menambahkan bahwa sesungguhnya perubahan-perubahan sosial ini sesuai untuk mewujudkan kemakmuran di sebuah kota yang jumlah penduduknya terdiri dari pemuda antara 25-34 tahun dengan perkiraan 40,4 % selama 10 tahun terakhir. Syambman juga berkata, “Sesungguhnya jumlah tersebut tidak termasuk jumlah orang-orang yang terkena musibah dengan kelainan seks yaitu orang-orang yang tinggal di kota dan orang-orang yang mewakili 15 % dari penduduk.

Tidak heran setelah ini semua, jika kita membaca di surat kabar seperti di bawah ini: “Para kaum wanita Swedia keluar untuk melakukan demonstrasi umum yang meliputi seluruh Swedia dengan alasan menuntut adanya kebebasan seks di Swedia. Demo ini diikuti oleh 100.000 wanita, mereka akan mengajukan surat permohonan yang ditandatangani secara resmi oleh pemerintah, di dalam surat itu mengumumkan atas pembelaan terhadap runtuhnya nilai-nilai akhlaq.”

Sesungguhnya fithrah wanita dan kecenderungannya untuk memperoleh kepentingannya dan masa depannya itulah yang mendorong mayoritas dari wanita itu untuk berdemonstrasi dan menggugat.

4. Banyaknya terjadi perceraian dan hancurnya rumah-tangga dengan sebab-sebab yang sangat sederhana
Jika selain pernikahan itu ada kendala-kendala, maka sesungguhnya setelah terjadi pernikahan ini, tidak terjamin kekekalannya oleh karena rumah tangga seperti itu cepat hancur dan ikatannya bisa pudar hanya karena sebab-sebab yang sangat sederhana.

Di Amerika, jumlah perceraian dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak sampai batas yang mengejutkan, dan ini juga termasuk di sebagian besar negara-negara Barat lainnya.

5. Tersebarnya penyakit-penyakit yang membahayakan
Tersebarnya penyakit-penyakit misterius yang menyerang saraf, akal dan jiwa dan banyaknya stress serta goncangan jiwa yang memakan korban beratus-ratus ribu manusia. Di antara penyakit yang paling berbahaya adalah penyakit yang akhir-akhir ini ditemukan yaitu yang dikenal dengan penyakit “AIDS” yang menghilangkan kekebalan tubuh. Penyakit ini mengancam berjuta-juta ummat manusia di Eropa dan Amerika dengan akibat yang sangat berbahaya. Sebagaimana diungkapkan oleh keputusan dokter dan statistik secara resmi yang diedarkan oleh beberapa majalah dan surat kabar di seluruh dunia.

Hal tersebut sesuai dengan yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya yang mulia, “Tidak muncul suatu perbuatan keji di suatu kaum pun, hingga mereka mengumumkannya (menjadikan tabiat umum) kecuali akan tersebar di kalangan mereka penyakit tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelumnya. (HR. Ibnu Majah)

Ini belum termasuk penyakit-penyakit stress dan kejiwann yang tersebar di tengah-tengah mereka mirip seperti tersebarnya api di daun yang kering, dan pasien-pasiennya memenuhi rumah-rumah sakit.
Apakah para penyeru pergaulan bebas itu menginginkan untuk memindahkan penyakit-penyakit itu pada masyarakat kita, padahal Allah telah memberi kecukupan kepada kita untuk menghindarkan keburukannya? Semoga Allah melindungi kita dari penyakit-penyakit itu. Ataukah jumlah besar korban dan data statistik itu telah hilang dari ingatan mereka?

Farwid dan pengikutnya dari ulama jiwa mengira bahwa menghilangkan ikatan-ikatan tradisi dari kebutuhan biologis itu dapat menenangkan jiwa (perasaan) dan menghilangkan stress. Itulah ikatan-ikatan yang dihilangkan, itulah keinginan-keinginan syahwat yang dilepaskan, maka hal itu tidak menambah jiwa kecuali semakin stress dan kebingungan, dan stress itu telah menjadi penyakit masa kini di sana, sedangkan beribu-ribu rumah sakit jiwa tidak berguna bagi mereka.30) Majalah Timur Tengah,tahun ketujuh No. 2086, Selasa 18 Dzulqa’idah 1404 H (14 Agustus 1984)



Sumber : Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah (Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh) oleh Dr. Yusuf Qardhawi, Cetakan Pertama Januari 1997, Citra Islami Press.