Halaman

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

Tahajud Cinta

 
 
“Sudahlah, Lan. Kamu nikah dulu juga enggak apa-apa!” Kataku pada Lani.

Lani mau menikah. Orang tua kedua belah pihak sudah setuju. Namun orang tuaku menyuruh Lani menunda sampai aku lebih dulu menikah. Semula Lani setuju. Namun setelah setahun lebih berlalu dan aku belum nemuin jodoh, dia mulai resah.

“Aku sih enggak masalah, mbak. Tapi bapak ibu. Mbak tahu sendiri kan mereka berkeras enggak mengizinkan,” kata Lani.

“Kapan sih kamu nikah?” tanyaku sambil menatap adikku.

“Pengenku tahun depan, Mbak. Sekalian bisa pindah ke rumah kami,” kata Lani terang.

“Doain tahun ini aku dapat jodoh dan nikah,” kataku pelan.

“Tapi mbak Sinta juga mesti usaha, cari jodohmu, Mbak! Jodoh juga enggak datang sendiri dari langit,” kata Lani.

Aku hanya tersenyum. Tidak mudah melupakan dia. Aku sendiri tidak tahu di mana sosok itu berada. Tapi aku sungguh tidak bisa melepaskan bayangannya dari benakku.
Cinta Masa Lalu.
***

“Kamu ngebingungin!” seru Vina, sahabatku padaku.“Ngebingungin gimana?”

“Kenapa kamu enggak milih aja satu dari lelaki yang ngedeketin kamu? Enggak ada orang yang sempurna Sin. Pilih satu dong!”

“Aku enggak bisa”

“Kenapa?”

“Hatiku bukan untuk mereka.”

“Lalu untuk siapa?” Tanya Vina kudengar penasaran.

“Sulit kujelaskan,” kataku pelan. “Kamu enggak kenal.”

“Dia mencintaimu?”

“Itu yang aku enggak tahu.”

“Jadi kamu jatuh cinta pada orang yang enggak kamu tahu apa dia suka kamu apa enggak? Oh Tuhan!” seru Vina sambil melotot padaku.

“Mungkin”

“Kamu enggak coba cari tahu soal dia?”

“Aku enggak terlalu dekat sama dia waktu kuliah. Setelah Lulus dan kerja, aku enggak pernah ketemu.”

“Kenapa kamu enggak ngelupain saja?”

“Aku juga enggak ngerti. Aku ngerasa dia itu jodohku. Padahal, sekarang aku enggak tahu apa-apa soal dia.”

“Aneh,” kata Vina pelan

“Kamu ada usul?” tanyaku.

“Cari dia. Ada temannya yang kamu kenal kan? Hubungi dia, siapa tahu bisa membantu.”

“Gimana kalau dia sudah punya calon istri, atau malah sudah menikah?” tanyaku. Aku sudah lama banget tidak ketemu hasan. Mungkin saja dia sudah nikah.

“Kamu toh belum tahu apa-apa soal dia,” bantah Vina. “Apa aku boleh bantu?”Aku menggeleng. “Aku akan cari sendiri.”

Vina mengangguk. “Oke”. Tapi kamu juga mesti ngebuka diri untuk laki-laki lain. Siapa tahu yang kamu cari itu ternyata bukan jodohmu,” pesan Vina sebelum berlalu.Kuputuskan untuk mencari Hasan. Sayang, sampak aku lelah belum juga kutemukan sosoknya. Lelaki sholeh dengan wajah teduh yang tidak pernah hilang dari hati dan benakku itu, seperti lenyap ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang tahu di mana dia. Beberapa teman yang kuanggap tahu dan kenal dengan Hasan, tidak tahu pula di mana Hasan. Alamat rumahnya yang kuperoleh dari petugas administrasi kampus, sudah ganti pemilik. Pemilik yang baru tidak tahu ke mana keluarga Hasan pindah.

“Sinta, ntar malam dating loh ke pestanya Imel! Banyak jomblo juga loh!” seru sari padaku.

“Yo!” kataku singkat.

Malam harinya aku datang ke pesta ulang tahun Imel. Pestanya meriah sekali. Banyak lelaki yang sengaja dikenalkan imel padaku. Dari perkenalan itu, berlanjut dengan pertemuan demi pertemuan. Namun selalu, aku merasa ada yang tidak cocok. Selera makannya yang beda jauh, lelaki pelit dan penuh perhitungan, belum lagi ada yang tidak peduli soal agama. Aku sampai sedih dan menghentikan kebiasaan itu. Capek dan sungguh melelahkan.

Kini aku mulai membongkar kembali buku almamater dan menghubungi beberapa teman lelaki. Satu dua memang masih lajang, beberapa sudah nikah. Hubungan dengan teman-temanku yang masih lajang pun bisa berlangsung. Namun aku tidak cocok dengan mereka. Bahkan ada salah seorang diantara mereka yang terang-terangan bilang, tidak ingin punya istri yang penghasilannya jauh di atasnya. Tentu saja aku syok mendengar itu.Sempat terpikir olehku kekayaan dan keberhasilanku, jadi penghalang untuk menemukan jodoh. Laki-laki pasti tidak akan mau kalah dari istrinya. Tapi, apa iya aku harus ngelepasin begitu saja karir yang kurintis bertahun-tahun dengan susah payah? Aku hanya bisa menangis sedih.

“Baiklah kamu ikutan kontak jodoh aja, Sin. Sebutin criteria kamu dan pilih yang paling cocok. Lalu ajak ketemuan,” saran Vina

Aku pun mengikuti rubrik kontak jodoh dari beberapa harian terkemuka. Surat yang masuk pun cukup banyak. Mereka juga ingin bertemu denganku. Namun kembali, kegagalan harus kutemui. Tidak ada yang mau serius, setelah tahu kedudukan dan kesuksesanku. Aku makin terpuruk. Niatku untuk mencari Hasan kembali menggebu. Sayangnya aku tidak tahu mesti mencari ke mana.

“kenapa kamu masih ngotot nyari dia, Sin?” Tanya Vina.

“Aku juga enggak tahu. Kalo dia sudah nikah, enggak masalah. Kalo belum, aku akan bilang perasaanku. Dulu aku ngejauh darinya, karena aku khawatir kalo buru-buru nikah, aku enggak bisa bantu orang tua dan adik-adikku, Vin. Sekarang tidak ada lagi, yang jadi bebanku. Setidaknya kalo dia nolak aku, aku sudah siap. Aku akan cari orang lain. Tapi aku harus ketemu dia dulu,” kataku bersikeras.

Vina memelukku. “Sabar ya Sin. Allah pasti ngasih yang terbaik untukmu!”

Siang itu, aku termenung di ruangan kerjaku. Aku merasa tidak ada harapan. Ke mana kucari, jodoh itu belum juga kutemukan. Aku meraih telepon dan menghubungi rumah.

“Bu, kenapa ibu enggak ngizinin Lani nikah dulu? Sinta engga keberatan,” kataku pelan, khawatir ibuku marah.
 
“Sinta, kamu itu lebih tua. Sudah seharusnya kamu yang menikah lebih dalu”.

“Tapi Bu, Sinta belum punya calon. Lani dan calonnya sudah siap nikah. Ibu tahu kan, nunda-nunda pernikahan mereka bisa berakibat buruk?” tanyaku.

“Ibu tahu. Persoalan kamu itu memang berat,Sinta. Tapi Ibu yakin, itu enggak akan lama. Kamu sendiri yang harus menyelesaikan”.

“Maksud Ibu?” tanyaku tidak mengerti.

“Kamu sudah mencari-cari jodohmu, ibu yakin itu. Tapi usahamu belum total, Nak. Kamu hanya menggantungkan usahamu pada kemampuan lahir. Kamu belum meminta pada Allah. Shalat tahajudmu mungkin yang kurang.”

Aku tertegun mendengar perkataan ibuku. Hatiku langsung bergetar hebat. Aku seperti langsung diingatkan pada sesuatu yang belakangan ini nyaris kutinggalkan. Shalat malam, shalat tahajud. Sejak kesibukkan kerjaku yang bikin aku harus sering pulang malam, aku memang jadi lalai melakukan tahajud.Gimana aku bisa shalat, kalo pulang kantor sudah jam satu pagi? Tiba di rumah ingin langsung tidur, pagi shubuh maksain diri bangun untuk shalat dan kemudian nerusin tidur sampai jam Sembilan pagi.

“Sinta? Kamu masih di sana, Nak?” Tanya ibuku mungkin karena lama tidak mendengar suaraku.

“Iya bu. Sinta masih dengar. Sinta dengerin nasehat ibu,” kataku pelan.

“Sebaiknya kamu perbanyak puasa sunah, perbanyak sedekah, dan shalat tahajud, Nak. Ibu yakin, kamu sudah bertemu dengan jodohmu. Tapi waktunya belum pas.”

“Doain Sinta kuat ya Bu!” seruku kemudian.

“Tentu, ibu pasti akan mendoakan untuk kebaikanmu, Nak,” kata ibuku lagi sebelum kemudian hubungan telepon terputus.

Aku masih tertegun di mejaku. Pembicaraan dengan ibuku terasa menohok nuraniku. Aku menatap tumpukan kerjaanku. Aku yakin, hari ini pun aku akan kembali pulang larut malam.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus mengatur waktu agar bisa pulang lebih awal. Langsung kutulis daftar prioritas hari ini agar aku tahu persis apa yang perlu ku urusi secepatnya.

Untuk sementara aku matikan hp-ku dan serius bekerja. Beberapa buku yang tinggal memeriksa bagian akhirnya, kini satu persatu mulai kuselesaikan.

“Turunkan naskah ini, Wi! Siap untuk masuk cetak! Kabari editornya untuk ngecek soal desain covernya!” seruku sambil menyerahkan empat naskah yang sudah kuperiksa. “Ada telpon untuk saya?”

“Iya, sudah saya catat, Mbak!” seru Dewi, “Bu Nila minta ketemu, waktunya terserah Mbak Sinta minggu ini!”

Bu Nila adalah salah satu pemegang saham di perusahaan tempatku bekeja. Akupun mulai menelepon orang-orang yang ada di daftar Dewi. Tidak lebih dari setengah jam, aku sudah menyelesaikan tugasku. Sembilan lewat dua puluh menit. Aku meletakkan naskah yang sudah kutandatangani di meja Dewi agar diturunkan untuk cetak dan memberitahu editornya. Aku pulang dengan perasaan lega.


Malam itu, aku tidur lebih awal. Jam setengah tiga pagi aku terbangun karena bunyi jam weker. Rasanya berat untuk membuka mata. Namun karena merasa tidak ada lagi yang membantuku selain Allah, aku pun memaksakan diri untuk bangun. Kusingkirkan selimutku dan beranjak ke kamar mandi. Meskipun Jakarta panas sepanjang waktu, tetap saja keengganan menguasaiku untuk berwudhu. Setelah shalat dan menunggu waktu subuh, ternyata aku harus tidur lagi. Kantukku terasa lebih kuat dari niatku untuk langsung beraktivitas.

Hari demi hari kulalui dengan memaksakan diri untuk shalat tahajud. Sesekali rasa malas dan bosan pun menguasai diriku. Terlebih setelah hampir satu bulan ini toh tidak ada perubahan dalam hidupku. Tidak ada lelaki datang yang sesuai dengan impianku. Tidak ada pula tanda-tanda aku bakalan menemukan Hasan. Semuanya terasa tetap jauh dari impian dan harapanku.

Aku sering sedih menyadari kenyataan yang kuhadapi. Namun toh aku tetap bersikeras untuk shalat tahajud, karena di waktu itulah aku bisa mengadukan semua jeritan hatiku pada sang Khalik. Aku bisa melumpahkan semua tangisanku tanpa perlu takut ada orang yang menertawai. Aku bisa mengungkapkan semua permohonan dan keinginanku.

Aku percaya Allah pasti mendengarkan semuannya. Mungkin saja Allah masih menyembunyikan jodohku karena akan memberi yang terbaik untukku. Bukankah yang paling baik itu selalu melalui proses yang panjang?

Sebenarnya aku juga ingin cepat menikah. Aku juga tidak ingin membuat orang tuaku sedih karena adikku harus mendahului aku. Namun apa mau dikata. Ketika waktu terus berlalu, adikku Lani jadi tidak bisa sabar lagi. Aku pun harus mengizinkan dia untuk menyiapkan segala sesuatunya, termasuk rencana lamaran oleh keluarga calon suaminya. Setiap malam aku tersungkur pada sujud yang panjang. Rasanya tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta pada-Nya.

Hari-hari berlalu. Aku tetap belum menemukan jodohku. Sementara lamaran pada adikku sudah dilakukan. Meskipun mencoba tegar, tetap saja hatiku menangis. Tetap saja ada yang terasa berat di sudut terdalam diriku. Ternyata ibuku benar. Menerima hal seperti ini butuh kebesaran hati dan jiwa.
***
 
“Mbak Sinta, siang ini Bu Nila minta bertemu. Soalnya minggu depan dia harus terbang ke Amrik untuk menghadiri wisuda anaknya,” kata Dewi padaku.

“Oke, saya telpon langsung Wi,” kataku pelan.

Jam dua belas siang aku meninggalkan kantor untuk ketemu Bu Nila. Mungkin saja Bu Nila ada ide-ide brilliant untuk kemajuan usaha di kantorku. Kafe itu terlihat ramai. Aku melangkah masuk untuk mencari Bu Nila. Bu Nila terlihat melambaikan tangan padaku. Aku langsung menghampirinya.

“Sudah pesan kok, Mbak Sinta. Tinggal tunggu anak saya,” kata bu Nila. “masih di jalan.”

Kami pun serius membicarakan investasi dan rencana kerja sama yang lebih luas. Tiba-tiba bu Nila tersenyum. “nah, itu anak saya!” serunya senang.

Aku ikut menoleh. Jantungku langsung berdetak-detak saat tahu sosok tinggi jangkung yang akan menghampiri tempat kami.

“Assalamu’alaikum. Maaf, Ma. Macet,” katanya yang langsung duduk dan sejenak menatapku agak lama. Aku hanya bisa menunduk.

“Wa’alaikumsalam. Tidak apa. Mbak Sinta ini anak saya, Hasan,” kata Bu Nila. “Dia belum punya calon istri. Padahal minggu depan wisuda. Saya pikir siapa tahu ada jodoh sama Mbak Sinta, makanya saya kenalin,”tambahnya.

Hasan tertawa.”kalo ini saya sudah kenal. Apa kabar Sinta? Mau nerima lamaran saya enggak? Mau dong, soalnya selama ini saya Istikharah yang muncul cuma wajah Sinta. Tapi saya enggak tahu gimana carinya. Soalnya abis lulus S-1 saya langsung lanjutin studi S-2 dan S-3 di Amerika,”terang Hasan pelan.

Aku langsung mendongak. Aku merasa tidak percaya dengan penuturan Hasan. Gimana mungkin semuanya terjadi? Lelaki yang kuharapkan siang malam hingga aku sering merasa tidak bisa menerima lelaki lain, kini ada dihadapanku. Bahkan ‘meminta’ karena petunjuk dari shalat istikharah. Apakah itu bukan sesuatu yang luar biasa? Aku masih diam. Aku tidak tahu harus ngomong apa pada Hasan dan ibunya. Aku tidak menyangka bu Nila yang sekian tahun kukenal adalah ibu dari lelaki yang selama ini kucari-cari.

“kok bengong? Apa jawaban atas pertanyaan Hasan, Nak Sinta?” Tanya bu Nila memecah kediaman di antara kami.

“Iya, Ibu. Insya Allah. Saya sungguh enggak tahu kalo bu Nila ibu Hasan, orang yang selama ini saya cari-cari.”

“Lho, kenapa cari-cari saya? Dulu waktu kuliah kok engga mau dekat?” Tanya Hasan sambil tertawa.

Aku tidak menjawab.

Bu Nila tertawa. “kalo orang berjodoh biasanya akan saling merasa.”

“Benar itu, Ma. Saya juga merasa begitu. Apa Sinta pernah merasa kalo kita bakalan berjodoh?” Tanya Hasan padaku.

Aku mengangguk, kemudian tertegun. Tiba-tiba aku ingat ibuku. Mungkin ini balasan dari Tahajud dan doa-doa beberapa malam terakhir yang jadi kebiasaan rutinku lagi, setelah sekian lama kutinggalkan.

“Jadi, orang tuaku bisa langsung melamarmu, Sinta? Tanya Hasan.

Aku tersenyum. “Biar kukenalin kamu ke orang tuaku dulu.”

“Setelah itu Mama dan Papa akan mengurus semuanya untukmu, Hasan!” Bu Nila.

Aku benar-benar bersyukur. Alangkah ajaibnya. Allah memberikan apa yang kuminta lewat jalan yang tidak pernah kusangka-sangka. Sungguh Allah Maha Mengabulkan Doa.

***TAMAT***


Penulis : Asma Nadia

Cinta Itu Kamu



Angin malam berhembus, menerawang kedalam pori-poriku. Langkah kecilku menyapu setiap jalan ditengah perkotaan.

"Hmmm,,,,,,,,,,,,," ku menghela nafas panjang. Sedari tadi ku berjalan tak sadar ku sudah berada jauh dari rumahku.

"ah,,,,,mau kemana aku? " aku bertanya tanya sendiri pada diriku. Sejenak fikiranku menerawang kesebuah percakapan tadi di telpon dengan kawanku. Ya ....kawan yang lama-lama mulai bersemai dihatiku.

"Assalamu'alaikum,,,hehehehe" itulah awal Adi menerima telpon atau menelpon. hm,,,,,Adi. Yah….. nama itu yang membawaku menulusuri perjalananku malam ini. Dia adalah seorang teman yang mulai bersemi dihatiku. Dia mulai mengisi langit-langit hatiku, warnanyapun berupa warni-warni pula.

"Wa'alaykumsalam...." jawabku, entah mengapa. setiap dia menghubingi aku, dunia serasa berubah menjadi warna warni pelangi. yang meneduhkan langit setelah hujan atau gerimis.

"gw ganggu ga? " pertanyaan polosnya mulai menggelitik telingaku.

“ya ampun…..gw mah ga akan pernah ke ganggu sama kehadiran lo Di” jawabku

“hehehehe,,,,,makasih yah Rai”

“ada ape nih?”

“ngga ada apa-apa sih cuma kangen aja ama suara lo!”

“Ou…yayaya, secara gitu bidadari emang wajib bin harus kalo dikangenin…hehehe”

“Huh…..penyakit PD lu kumat yah? Udah diminum belom obatnye?”

“Abis di! belum gw tebus lagi, maklum BBM naik lagi”

Aku dan hadipun tertawa sejadinya.

“Eh do’ain gw yah!” pinta Adi disela-sela tawa kami.

“Do’ain apa ?”

“Besok gw mau Khitbah Intan!”

Tak karuan rasanya hati ini, darah seolah naik keatas kepala. Aku menjadi pucat pasi.

“Oh yah? Serius lu?” Tanya ku gugup.

“Ya iyalah, masa becanda gw! Ini masalah serius non!”

Aku langsung terdiam, tertegun sejenak, tak terasa air dimataku menetes, beruraian tak terbendung lagi.

“Baguslah, eh udah dulu yah”

Tanpa basa basi aku langsung menutup telpon dari Adi. Dan inilah awal aku menelusuri perjalanan malam ini.

Sepertinya angin malam mulai menusuk kulit. Aku sangat suka berada ditengah keramaian malam jalanan. Suasana malam selalu membuat hatiku yang bergembira menjadi lebih gembira, dan menjadikan hatiku yang sedih sedikit bergembira. Lampu-lampu kota yang indah jika terlihat dari atas gedung, indah dimalam hari tapi bagai penyulut api disiang hari. Karena panasnya bumi dan sumpeknya isi bumi. Namanya juga kota.

Aku menghela nafas, selalu begitu, menghela nafas untuk mencegah dinding kantung air mata yang akan jatuh satu persatu. Tapi kali ini tak tertahan. Ah……..seharusnya aku bahagia temanku akan meminang seorang wanita sholehah seperti Intan walau aku tak pernah tau siapa dia, dan dimana. Sepertinya aku tak mau tau tentang “INTAN” itu. Tapi Ya Rabb, aku tetap manusia yang punya rasa, dan hati ini tidak bisa dibohongi.

Arlojiku selalu berlari berputar, waktupun tak kunjung usai, dia selalu berjalan dan akan terus berlari tak akan pernah berhenti semasa bumi masih dalam putaran porosnya. Dan hidup ini ? akan tetap kujalani walau hatiku remuk redam.

Aku melangkah pulang, sedikit gontai, tapi ku usahakan tetap tegar.

“Adi kan hanya temanmu Raiyah, teman biasa! Hanya teman Akrab” aku coba untuk menghibur kepiluanku dengan menasehati diriku sendiri.

Pukul 10 tepat aku masuk kerumah. Suasana sudah sunyi sepi, dan aku terhanyut dalam mimpi.
***

Hari bergulir kembali, pagi menyapa, dalam subuh kutergulai lemah, bersimpuh pada yang kuasa, memohon ketegaran diri yang hina, tetesan air mataku tak bisa ku bendung.

“Ya Rahman, aku ternyata benar-benar telah jatuh cinta padanya, hatiku luluh lantah dibuatnya, tak ada lagi episode denganya”

Kutanggalkan mukenaku, kusapa pagi dengan hati yang teduh. Janjiku tak akan melirih padanya lagi.

“Pagi mah !” sapaan hangat untuk ibuku,

“Pagi, semalem pulang jam berapa ?”

Ternyata mamah selalu mengerti aku, beliau tau apa yang berkecamuk dalam benakku. Dan beliau juga tau apa obatnya. Yaitu kesegaran malam.

“Semalam mba Ririn telpon kamu tuh nenk!” mamah masih membolak balik secarik kertas, mungkin daftar belanjaan untuk hari ini.

“Oya?”

Masya Allah, begitu malu aku. Mengingat semua ini aku menjadi rapuh, aku merasa tak berdaya dihadapanNya. Itulah aku yang baru mengenal akan kesempuranaan islam, terlalu banyak khilaf yang ku sengaja. Astagfirullah.

Segera kuhubungi mba Ririn, mataku berkaca-kaca. Ah………, aku begitu cengeng!

Telponnya selalu sibuk, aku maklumi. Karena amanah da’wahnya begitu besar. Selalu kucoba beberapa kali dan nyambung! Alhamdulillah

“Assalamu’alaikum” kusapa seseorang disebrang sana

“wa’alaikumsalam, dek Raiyahkah?” Jitu memang tebakan mba Ririn.

“Iya mba kok tau?”

“Suaramu khas dek”

“Hehehe, semalem mencariku?”

“Iya, kemana kamu kemarin tak ikut kajian?”

“Oh….kemarin dikampus ada rapat dadakan! Memang sms ku tak sampai?”

“Nda ada sms darimu, kebanyakan juga dari suami mba!”

“Weleh, ngga usah diomong juga aku dah tau kali mba, pengantin baru toh! Hehhehe!”

“dasar! Ya wis,,rapopo. Jadi gimana bisa nda ketemu hari ini?”

“insya Allah, jam berapa ?”

“Ba’da Zuhur!”

“Ok! Dirumah mba?”

“Yah!”

“Ya wiss, sudah dulu yah mba. Assalamu’alaikum!”

“wa’alaikumsalam. Ditunggu ya dek”

“OK!”

KLIK.

Telponpun tertutup, aku merenung dan ingin sekali aku berteriak. Tapi lebih baik kunanti malam yang akan menjadi kesaksian kesedihanku.

Tiba dirumah mba Ririn aku langsung memeluknya, dipelukkanya aku merasa nyaman, serasa aku berada di tengah lautan dan duduk disudut perahu. Mba Ririn adalah orang yang selalu mengerti aku, keluh kesahku, riang tawa ku. Dia tau segalanya tentang aku, dan rasa ini? Tak bisa kusembunyikan darinya. Kuceritakan semua keluh kesahku karena Adi, dan tanpa malu aku bilang aku begitu mencintainya.

“Begitulah cinta, dan syaitan bermain. Dalam hati yang ingin kamu keruh untuk dijadikan sejernih air Zam-Zam banyak sekali godaan yang akan kamu pikul. Salahmu, kau menanggalkan hukum syara’ ketika bergaul dengannya, tidakkah kamu malu pada Allah? Perasaan itu akan muncul tanpa diminta dan tanpa di undang, dia akan datang dengan seenaknya lalu pergi begitu saja meninggalkan diri tanpa memandang luka dihati, dan itulah cinta. Kembalikan semuanya kepada Allah, Tetapkan hatimu untukNya”

Bagai embun yang menetes didedaunan ketika kesejukan pagi bernyanyi. Begitu yang kurasakan saat mba Ririn mulai bermain lincah dengan tausyiahnya. Hatiku menjadi tenang, galau sudah meredam. Ku teguk air yang disediakan, untuk menahan titis air mataku, tapi tetap saja aku tak mampu membendungnya.

“Menangislah, suamiku juga nda ada dirumah!”

Cetus mba Ririn sambil berlalu kekamarnya. Mengambilkan satu kotak tisyu untukku, untuk mengapus air mata ini.

“Terima kasih mba”

Mba Ririn hanya tersenyum menggelitik, aku memandangnya penuh Tanya!

“Dasar yah anak muda, makanya! Kenapa Allah menyeru kita untuk segera menikah ketika sudah siap atau berpuasa kalau belum siap. Ya inilah. Ada-ada aja cerita tentang cinta”

Aku hanya meringis, entah ikatan apa yang memeprsatukan kami sehingga tak ada batasan malu diantara aku dan mba Ririn.

“Sudah Adzan Ashar, shalat?” Tanya mba Ririn

“Iya”

“Ambilah wudhu, mintalah padaNya jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalahmu ini. Serahkan semua ini pada Maha dari segala maha, kuasailah dirimu. Jangan pernah syaitan asik berkeliaran tak tentu dalam sini” mba Ririn menunjuk tepat ke arah jantungku berdetak. Aku hanya bias mengedipkan kedua mataku.

Setelah selesai wudhu dan shalat, kulihat mba Ririn tampak rapih.

“Mau pergi yah mba?”

“Iya!”

“Oh….!”

“Mau ikut?”

“Kemana?”

“Kerumahmu!”

“Kerumahku?”

“Iya!”

“Ah….mba ini jangan ngarang! Aku kan ada disini, mau ngapain kerumahku. Oh…mau main ketemu sama mamah?”

“Ngga!”

“terus?”

“Ayo kita berangkat kerumahmu!”


Dalam perjalanan aku bingung dan bertanya-tanya.

“ada apa sih mba?”

“Ngga ada apa-apa kok!”

Aku mulai memendam kecurigaan, biarkan aku bertanya pada diri sendiri.

Tiba dirumah beberapa orang sedang berkumpul, kulihat suami mba Ririn menyapa mba Ririn. Aku terheran, seperti keledai yang sedang dibodohi seekor kancil. Terdiam, termangu, Melongo, dan perasaan aneh berkecamuk.

“Hai Rai!”

Aku begitu kaget melihat Adi ada dirumahku.

“Assalamu’alaikum, hai….”

“Oh…iya lupa, wa’alaikumsalam!”

“Masuk-masuk” perintah Adi padaku.

Wah………apakah dunia sudah mulai terbalik? Yang punya rumah seperti tamu yang baru pertama kali datang kerumah tersebut. Aku mengikuti perintah Adi dan mba Ririn serta suaminya. Ada apa gerangan.

“Kenalin, nih orang tua gw. Ini mamah gw” Tunjuk Adi pada salah satu wanita tua disudut kiri ruang tamu.

“Ini papah gw!”

“Hus….sama calon istri kok gw-gw sih ngomongnya”

Hah? Calon istri? Makin bingung saja aku dibuatnya.

“Iya…..Intan itu Kamu, dan Cinta itu kamu!”

Entah rasa apa yang ada saat ini, pelangi berawankan Guntur. Mungkin lebih Tepat untuk menghiasi hari ini. Dan mba Ririn diam diam berkonspirasi!
***Sekian***

Penulis : Bunga Revolusi

Suami Impian



Penulis : Asma Nadia

“Apa lagi, Nirina?”

Gadis dengan garis wajah oriental itu tak menjawab. Hanya menggoyang-goyangkan kakinya, resah.

“Tak ada yang salah dengan perawakannya, kan? Tidak seperti lelaki yang terakhir datang.”

Nirina tersenyum. Pasti pikirannya melayang ke kejadian tujuh bulan lalu, ketika seorang lelaki datang melamar. Biyan, namanya. Kehadiran sosok tegap itu segera saja membawa kami pada pertengkaran sengit,

”Aku tidak bisa.”

”Kenapa?” kejarku cepat. Ini bukan pertama kali Nirina beralasan. Selalu ada saja kekurangan lelaki yang melamarnya.

Kekanak-kanakan!

Terlalu serius. Lihat keningnya yang terus-terusan terlipat!

Wajahnya aneh, tidak terlihat tulus.

Entahlah, dari caranya berjalan, sepertinya dia tipe lelaki yang suka mendominasi perempuan!

Dan masih ada segudang alasan yang keluar dari bibir tipisnya.

Pun tujuh bulan lalu, ketika aku menerka-nerka keberatannya terhadap Biyan. Wajah lelaki itu simpatik, bahasanya pun santun. Penampilannya memang terbilang biasa, tapi jelek pun tidak.

”Jadi, apa lagi, Nirina?”

Matanya!

Di tempat duduknya, Nirina menggoyang-goyangkan kakinya, persis anak kecil. Tangan gadis itu berkeringat. Jantungnya berdegup lebih keras.

Aku memperhatikan Biyan lebih lekat, seandainya kamera, maka barangkali aku sudah menangkap wajah sederhananya dengan zoom terdekat.

”Tidak ada yang salah dengan matanya!” ujarku, setengah berbisik.

Nirina menggeleng-gelengkan kepala. Kerudung segi empatnya terusik.

Gemas, aku tak lagi bicara. Percuma, toh Nirina lebih sering tak mendengar perkataanku.

Kulihat mereka masih bercakap-cakap, tapi tak ada perkembangan. Upaya kedua orang tua Nirina untuk mengarahkan obrolan ke tingkat lanjutan pun tak menampakkan hasil.

Lima belas menit kemudian, Biyan pamit.

Selesai sudah, pikirku. Nirina memang terlalu.

”Jangan menyebutku terlalu!” protesnya cepat.

Seperti biasa Nirina selalu tahu pikiranku, seperti aku selalu bisa menebak isi kepalanya. Kami memang teramat dekat.

”Tapi kamu memang terlalu, Nirina.”

”Tapi, matanya….”

”Tidak! Bukan matanya. Ayolah, percuma bohong di depanku.”

Nirina menyenderkan badannya di pintu kamar. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Tak lama, bahunya mulai terisak-isak.

”Tolong, jangan desak aku terus.”

Entah isaknya, entah memang waktu itu sudah terlalu malam untuk berdebat. Aku mengalah.

Itu yang terjadi tujuh bulan lalu, tapi tidak kali ini.

Rahangku mengeras. Apapun yang terjadi, pokoknya aku sudah bertekad untuk mempertahankan pendapatku mati-matian. Demi kebaikan gadis itu. Nirina tidak bisa terus-terusan begini. Tidakkah dia sadar usia yang terus melaju tanpa hambatan?

”Aku tahu,” desisnya lemah.

Aku gembira mendengarnya. Sungguh. Tidak ada yang lebih menggembirakanku selain keberanian Nirina untuk jujur pada dirinya sendiri.

”Ya, bagus begitu. Mantapkan hatimu, Nirina.”

Nirina tak menjawab. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah lelaki ke sekian yang masih terus bicara. Di antara mereka, kedua orang tua Nirina sebaliknya berkali-kali justru melirik anak gadisnya.

Mudah-mudahan kali ini berhasil, barangkali begitu pemikiran mereka. Setidaknya Nirina belum meninggalkan teman satu kantornya itu, meski sudah setengah jam lebih.

”See? Tidak jelek juga kan memberi dirimu kesempatan. Setidaknya kalian sudah satu kantor, pasti lebih mudah, sebab telah saling mengenal.”

Nirina tiba-tiba menggeleng. Melunturkan keyakinan diriku barusan.

”Kami memang satu kantor, tapi beda divisi. Dia orang baru malah. Tak banyak yang kutahu,” bisiknya dengan intonasi yang telah kuhafal.

Tidak! Tuhan, jangan biarkan Nirina menarik dirinya lagi. Kumohon….

Tapi Nirina mulai terlihat tidak nyaman. Kedua kakinya bergerak-gerak lagi. Wajah gadis berkulit kuning langsat itu kembali tak tenang. Puncaknya….

Jangan! Jangan begitu Nirina. Eh, kembali, jangan pergi. Nirina…!

”Aku tidak bermaksud begitu. Bukan maksudku menjadi perempuan yang selalu mengecewakan.”

Aku menarik napas panjang, bingung harus menjawab apa.

”Kamu egois, Nirina. Suami impian tidak akan datang jika kamu terus begini.”

Jawabanku yang tegas itu serta-merta membuat Nirina terkesiap,”Benarkah?”

Aku mengangguk.

”Maafkan aku, bukan maksudku begitu.”

Aku tiba-tiba saja ingin tertawa keras.

”Jangan keras-keras. Telingaku tidak tuli.”

Aku tetap saja tertawa. ”Nirina… Nirina,” sebutku kemudian, masih dengan gelak yang tersisa,”kamu tidak harus meminta maaf padaku. Memangnya, apa peduliku?”

Nirina terlihat tak mengerti.

”Dengar,” lanjutku lagi,”Tak peduli apakah seorang Nirina menikah atau menjadi perawan tua, tidak banyak bedanya bagiku. Toh kita tetap sama-sama, kan? Tidak ada yang bisa mengubah itu.”

Mata sipit memanjang milik Nirina tampak bingung.

”Kamu egois, Nirina. Dengar, selama ini kamu hanya mempedulikan perasaanmu, kemauanmu, dan lupa memandang sekitar. Sekali-kali keluar dari dirimu, Nirina. Pandang sekelilingmu dengan mataku. Lihat, betapa kecewanya wajah Papa dan Mama, setiap kali kamu menarik diri dari proses mengenal lebih dekat calonmu. Bisa kamu lihat sekarang?”

”Kamu bohong!” Mata Nirina mendadak berair.

”Itu yang sejujurnya, kamu tahu itu.”

Gadis itu menggeleng lagi. ”Tidak, tidak. Kamu bohong. Papa dan Mama baik-baik saja, mereka dua orang tua yang luar biasa. Tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Tidak seperti banyak orang tua lain yang kutahu.”

Ketika Nirina meninggikan intonasinya, dan mulai dengan serampangan membela diri, aku memilih bungkam. Tidur mungkin jalan keluar yang baik. Tapi sebelum pergi, aku meninggalkan kalimat ini padanya.

”Tidakkah setiap orang tua ingin menjadi kakek dan nenek, Nirina? Kebahagiaan apa lagi yang bisa kita berikan pada mereka, setelah kelucuan sebagai kanak-kanak menghilang?”

Nirina diam.

Tapi aku tahu, sebetulnya dia menyimpan kalimatku baik-baik dalam ruang penting di hatinya.

Buktinya, seminggu kemudian gadis itu kembali membuka diri. Padahal laki-laki yang datang kali ini sama sekali tidak dikenal gadis itu. Mariska, kakak satu-satunya Nirina yang mengenalkan.

Tingginya cukup, berat badan sedang. Alis hitam dan tebal, nyaris bertaut di dahi. Bibirnya sedikit kecokelatan, namun tidak terlihat hitam oleh rokok. Sungguh memberi kesan awal yang baik buatku, kuharap begitu juga buat Nirina.

”Ssst, siapa tadi namanya?”tanyaku, sekonyong-konyong.

Nirina sedikit tersipu, namun dijawabnya pertanyaanku dengan suara serupa bisikan,”Kamu tidak menyimak rupanya?”

Aku tertawa.”Tidak, sebab kamu sendiri tidak ingat namanya, kan?”

Nirina kembali tersipu. Tapi aku senang melihat semburat merah muda di wajahnya yang kuning.

”Bagus.”

Laki-laki itu menyebutkan namanya, membuat pias merah jambu itu kembali memuai di wajah Nirina. Seperti kanak-kanak yang tertangkap basah mencuri permen.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

”Bagus ini teman Kak Riska waktu di SMA, Nirina.”

Kami berpandangan, lalu berbarengan ber’O’.

Setelah itu kata-kata mengalir, silih berganti. Selama pertemuan itu pula, aku mencatat perubahan cukup besar pada Nirina. Gadis itu terlihat lebih membuka diri, dan berusaha keras terlibat dalam percakapan secara aktif.

Dia, misalnya, mau bertanya di mana tempat tinggal pemuda bernama Bagus itu, lalu apa hobinya. Dan ketika Bagus menyebutkan membaca sebagai hobi utama, mata memanjang milik Nirina berkerlap.

Nirina bahkan berani menanyakan pekerjaan Bagus, juga keluarganya. Pemuda itu menjawab semua pertanyaan Nirina dengan simpatik. Aku suka melihat cara berbicaranya yang begitu teratur, tidak terburu-buru, santun tanpa perlu menjadi kaku.

“Ssst, kamu bertanya atau interogasi?” godaku saat Bagus berpamitan.

Awalnya Nirina tertawa saja. Tapi sewaktu jam demi jam berlalu, gadis itu berangsur tak tenang.

“Tidak perlu cemas begitu, Nirina.”

Gadis kesayanganku itu seperti tak mendengar, terus mondar-mandir di kamarnya yang berukuran 3 x 4. Lalu tak berapa lama, setelah Mariska pulang, kecemasan Nirina berubah menjadi kepanikan.

”Hey… hey… tenang saja, Nirina.”

Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu betul, aku terlalu agresif tadi. Harusnya tidak begitu. Ya Allah… lihat kan wajahnya begitu lega ketika pertemuan berakhir? Seharusnya aku lebih menahan diri, dan tidak bersikap seperti seorang polisi yang melakukan investigasi.”

Belum pernah kulihat Nirina segundah itu. Berkali-kali tangan rampingnya ditepukkan ke kening.

“Duh, bodohnya aku!”

“Tenang,”

“Tapi tadi kamu sendiri yang bilang begitu, kan?”

Aku garuk-garuk kepala, benar sih. Tapi tadi kan aku hanya menggodanya saja.

”Sekarang dia akan melihatku tak ubahnya aggressor, seperti Israel terhadap Palestina.”

”Kamu berlebihan, ah.”

”Ok, seperti striker di lapangan terhadap kipper?”

”Ini bukan pertandingan bola, Nirina. Tenanglah.”

”Sekarang dia akan berubah pikiran,”suaranya mengandung penyesalan.

Aku terenyuh mendengarnya. Suara gadis itu barusan terdengar tulus, pekat dengan kekhawatiran. Seolah berkata, dia telah menemukan suami impian.

Padahal ini baru pertemuan pertama.

Alhamdulillah.

”Tapi, bagaimana jika Bagus tidak kembali?”

”Gampang saja,” sahutku mencoba menenangkannya.

”Maksudmu?”

”Ya, setelah semua kecerewetanmu tadi, siapa yang sudi kembali?”

Nirina shocked, tapi aku tertawa.

“Hey… hey. Aku cuma bercanda, kok.”

Bibir gadis itu menyungging senyum. Hanya sekilas sebelum mendung kembali menggayuti, dan membuat paras Vic Zhounya murung.

Syukurlah kekhawatiran gadis itu tak terbukti. Beberapa hari kemudian, pemuda bermata hitam yang memiliki alis tebal itu datang lagi. Mariska kembali menemani percakapan dua anak muda itu, bahkan Papa dan Mama belakangan ikut meningkahi obrolan ketiganya.

Raut wajah Nirina cerah, aku senang merasakan hatinya yang melonjak-lonjak. Tampaknya pemuda ini memiliki kecocokan dengan Nirina, dan bisa memenangkan kunci hati gadis itu.

Pada pertemuan kelima, Bagus membawa kedua orang tuanya, dan mengajukan niatan. Mariska memang tak salah pilih makhluk untuk menikahi adiknya. Bagus tak seperti kebanyakan pemuda yang cuma mau pacaran, sebaliknya cowok itu dengan terus-terang mengemukakan keinginannya untuk memperistri Nirina.

Tibalah saatnya semua mata tertuju pada Nirina, yang sejak tadi menundukkan wajah mungilnya, yang hari itu dibalut kerudung ungu muda.

Diam-diam aku juga seperti mereka, menunggu. Berdoa, agar Nirina tak lagi ragu. Kemudian pelan-pelan kami melihat Nirina mengangkat wajahnya. Sebutir embun menggenang di kedua mata sipitnya. Dan seperti sulit dipercaya, Nirina kemudian menganggukkan kepala.

Yes! Yess! Yesss!

Aku bersorak paling kencang, meski sepertinya tak ada yang mendengar, kecuali Nirina sendiri.

Rapat kilat dilakukan, tanggal pun ditentukan. Hanya dalam waktu dua pekan sebuah pernikahan siap digelar. Aku betul-betul salut melihat kegigihan dan ketenangan pemuda bernama Bagus itu. Ketenangan yang perlahan mengalir pada diri Nirina, dan memberinya kemantapan hati.

Nirina… Nirina… akhirnya! desisku di antara peluk cium, Kakak, Papa, dan Mama. Kegembiraan serupa memancar dari wajah kedua orang tua Bagus, juga pemuda itu sendiri.

Begitulah, hari demi hari setelahnya, aku mencatat keriangan Nirina. Antusiasmenya dalam memilih undangan, mengurus sendiri ke percetakan, terkadang ditemani Bagus dan adiknya. Lalu mencari masjid tempat akad nikah dilakukan. Juga menyewa tempat resepsi besar, sesuai keinginan kedua orang tua Nirina. Aku sendiri tak heran, maklumlah mereka dua keluarga besar. Tentu banyak yang akan protes jika tak diundang.

Hingga hari H tiba.

Sejak malam sebetulnya aku menangkap sesuatu yang lain. Bukan kecemasan seperti yang sudah-sudah, meski udaranya nyaris serupa. Nirina, seperti menunggu sesuatu.

Salat malam dilakukan gadis itu, dengan sujud-sujud panjang. Lalu tangannya menengadah. Usai tahajud, gadis itu membuka jendela, dan matanya menerobos dalam kegelapan, seolah mencari-cari sesuatu. Bahkan hingga Subuh berkumandang, detak jantungnya kembali berbunyi keresahan, agak berbeda, tapi nyaris seperti yang lalu-lalu.

Mulanya aku tak mau bicara. Kubiarkan saja dia merenungi masa-masa terakhir sebagai seorang gadis. Lusa dia akan terbangun dengan seorang pendamping di sisinya, dalam dunia yang sama sekali berbeda. Bahkan sejak mereka masuk ke peraduan.

Harusnya, Nirina bahagia. Kenyataannya?

Lepas salat Subuh, ketika Mama menggedor kamar Nirina, menyuruhnya mandi, Nirina melakukannya setengah hati saja. Begitu pun ketika Mariska mengingatkannya agar segera keluar kamar, untuk dirias sebagaimana pengantin umumnya, Nirina menunjukkan sikap enggan.

Aku tak tahan lagi berdiam.

”Nirina, kenapa lagi?”

Wajah orientalnya tampak cantik dalam lipstik warna merah jambu. Tapi gadis itu masih saja tepekur di pinggiran ranjang pengantin yang sudah dihias dan menyebarkan wangi melati.

”Kamu harus ganti baju, Nirina.”

Kepalanya tertunduk,”Ya, aku tahu.”

”Lalu? Jangan katakan kamu ragu lagi.”

Nirina tak menjawab, kedua kakinya digoyang-goyangkan hingga ranjang sedikit terayun. Sikap yang kontan membuatku merasa cemas.

”Kamu tidak ragu lagi, kan? Tidak berubah pikiran, kan?”

Nirina menggelengkan kepalanya.

”Lalu apa? Ada apa?”

Nirina mengembuskan napas berat. ”Entahlah… aku rasa… aku….”

Kalimatnya terhenti, gadis itu menarik napas lagi.

”Kenapa denganmu?”

Nirina melompat dari tempat tidur. Barusan suara Mama menyuruhnya berpakaian, terdengar lagi.

Tangan Nirina menarik resleting kebaya putihnya. Lalu masih tetap dengan wajah murung, memakainya.

”Please, jangan sekarang, Nirina. Jangan ragu ketika kamu sudah sedekat ini,” pintaku, setengah memohon.

”Aku tahu,”

”Lalu?”

”Aku tidak ragu, hanya saja…,” suaranya kembali terputus teriakan Mama. Nirina menjawab panggilan orang tuanya tanpa membuka kamar. ”Sebentar, Ma….”

”See? Semua orang gugup hari ini, Nirina, apalagi kamu. Itu wajar!”

Nirina tak menjawab. Gadis itu kini telah selesai berpakaian. Dipandangnya sosok kecil mungil dalam balutan kebaya berwarna putih gading, dan kain batik di depan cermin. Selembar kain schiffon sebagai pelengkap jilbab dikenakannya tanpa ekspresi.

Ahh, aku tak suka melihat wajah cantiknya yang masih saja murung.

”Kalau bukan ragu, apa lagi?” kejarku setelah beberapa saat kami hanya berdiam.

”Aku menunggu pertanda.”

”Apa?” teriakku kaget,”Pertanda?”

”Ya!” jawabnya tegas,”Pertanda dari Allah, bahwa Bagus memang suami impian, laki-laki yang dipilihkan-Nya untukku! Apa itu salah?”

Fhew. Nirina sungguh menguras kesabaranku.

“Dan kamu belum mendapatkannya? Selama obrolan lima kali dengan calonmu itu, tidakkah kamu bisa menangkap pertanda?”

Nirina menggeleng.

Ya Allah. Aku makin kesal dibuatnya.

“Maksudku bukan itu, tapi pertanda. Sesuatu yang bisa membuatku lebih mantap, sebab tahu memang dialah pilihan dari-Nya.”

“Pertanda, ya? Pertanda?!”

“Ya… sudah sejak semalam aku memikirkannya.”

“Kenapa tidak mencari pertanda ketika tanggal belum lagi ditetapkan?”

“Tidak bisa.” Kepalanya menggeleng lagi, ”Sebab kali ini aku tak punya alasan. Tidak matanya, tidak cara berjalannya, tidak sikapnya, tidak dahinya yang selalu berkerut, tidak ada!”

Bagus nyaris sempurna di mata Nirina. Sosok suami yang diimpikannya. Aku tahu pasti itu.

”Kalau begitu, ini cuma alasan yang dicari-cari!” teriakku dengan suara tertahan.

Sementara matahari terus bergulir. Di luar kamar sudah terdengar suara riuh sanak saudara yang datang untuk mengantar Nirina ke tempat akad nikah, sekaligus resepsi. Pintu sudah berkali-kali diketuk, tapi Nirina belum keluar juga. Dan alasannya cuma satu: gadis itu belum menemukan pertanda!

Ini gila!

”Jangan menyebutku begitu. Sudah kubilang ini cuma masalah waktu. Pertanda itu pasti datang.”

”Seperti apa?”

Nirina mengangkat bahunya. ”Entahlah, tapi mungkin aku akan mendengar orang-orang menyebut kata ’bagus’ berkali-kali, atau awan tiba-tiba membentuk inisial nama kami berdua, atau….”

”Atau kamu tiba-tiba melewati mobil pengantin lain, atau melewati toko kue di mana terlihat kue pengantin tiga tingkat disana, atau sekawanan burung-burung terbang di langit membentuk wajah calon suamimu itu… atau…,” ujarku asal.

Nirina mengangguk. ”Ya, seperti itulah. Apa pun yang bisa dijadikan pertanda.”

Aku benar-benar hilang akal, Nirina kenapa tidak mendengar kata-kataku, sekali ini saja!

”Cobalah mengerti, terlalu banyak yang harus aku pertaruhkan,” ujarnya mencoba meyakinkanku, ”Bagaimana kalau Bagus tak sebaik yang kita duga? Bagaimana jika dia sudah punya istri dimana-mana, bagaimana jika dia nanti ternyata suka memukuli istri? Atau ternyata pernah terlibat mafia di luar negeri, atau merampok bank?” Suara Nirina meninggi, di sela ketukan pintu yang kembali terdengar.

”Kamu kebanyakan nonton infotainment!” sergahku cepat.

Ketukan di pintu berulang lagi. Ritmenya kian cepat. Orang-orang pasti mulai tidak sabar.

”Nirina….”

Itu suara Mama.

Nirina diam, aku tahu dia menungguku mengucapkan sesuatu.

“Kalau begitu, cari kelebihannya Nirina. Pusatkan pikiranmu pada kebaikan-kebaikannya, itulah pertanda! Itulah alasan kenapa kamu harus menikah dengan Bagus.”

Nirina diam, aku tahu dia sedang berpikir keras.

Tetapi tak ada waktu, suara ketukan di pintu kini telah berupa gedoran.

Nirina harus segera mengambil keputusan. Sebentar lagi pintu mungkin didobrak dari luar. Mereka bisa saja mengira gadis itu telah pingsan di kamarnya karena nervous.

Di tepi ranjang, Nirina masih berpikir. Mengetahui itu aku menjadi lebih semangat mengembuskan pikiran demi pikiran.

Sikapnya yang sopan, Nirina.

Matanya yang tak liar ketika menatapmu.

Perhatikan bagaimana dia selalu menunggu lawan bicaranya selesai, sebelum menanggapi.

Pikirannya yang cerdas telah menghemat banyak biaya pernikahan.

Keinginan untuk memperistrimu secepatnya.

Ingat senyumnya yang hangat. Matanya yang teduh.

Kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Juga keraguan yang beberapa kali melintas.

Lalu salatnya yang selalu tepat waktu.

Air mata Nirina menetes.

Aku mengangguk, ”Itu lebih dari pertanda, Nirina. Allah mengirimkanmu seorang lelaki yang baik.”

Nirina mengikuti anggukanku.

”Well, mungkin tidak seganteng Keanu Reeves, perawakannya pun tidak setegap Ade Ray, apalagi suaranya jika dibandingkan Clay Aiken yang merdu, belum lagi….”

Nirina mengapus air matanya. ”Sudah, sudah. Jangan membuatku kembali ragu,” potongnya cepat.

Aku setuju.

Di dalam mobil yang mengantarnya ke tempat akad nikah, aku mendengar Nirina bersenandung kecil.

”Nirina….”

”Apa?”

”Tidak jelek kan menuruti kata hati?”

Gadis berwajah oriental itu mengangguk. Lalu tersenyum lebih lebar. Menenangkan Papa dan Mama, yang sejak tadi tampak kebingungan menyaksikan percakapan Nirina denganku sepanjang perjalanan. Barangkali alasannya karena aku cuma sosok tanpa wujud. Ah, seharusnya sejak tadi aku memperkenalkan diri pada mereka.

”Ehem… namaku nurani, atau….”

Aku masih berusaha memikirkan beberapa nama lain, ketika sebuah suara yang akrab denganku sejak kelahirannya, menyergah. ”Ssst… jangan berisik!”

Mengingatkanku akan prosesi yang sebentar lagi dimulai.


*Diambil dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama “Suami Impian” yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa, Cetakan kedua, April 2006. Dapatkan bukunya dan simak cerita-cerita keren dari Asma Nadia, Birulaut, Ifa Avianty, Sakti Wibowo, dll.